Berita Klaten

Desa Melikan di Klaten, Sentra Gerabah yang Punya Teknik Putaran Miring Satu-satunya di Dunia

Di Klaten ada sentra pembuatan gerabah. Dalam teknik pembuatannya ada yang disebut teknik putaran miring, diklaim jadi satu-satunya di dunia.

TribunSolo.com/Zharfan Muhana
Teknik putaran miring, di sentra gerabah Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Desa Melikan merupakan salah satu sentra penghasil gerabah yang berada di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.

Produksi gerabah sudah ditekuni turun-temurun oleh masyarakat setempat.

"Kalau gerabah sendiri sudah lama, kalau dari sejarah kelahiran Desa Melikan sejak 1842," ujar Perwakilan paguyuban Panjang Umur Hidup Kreatif, Waris Sartono kepada TribunSolo.com.

Waris memiliki usaha gerabah art, dimana gerabah dilukis kembali sehingga memiliki nilai seni.

Usaha gerabah di Desa Melikan memiliki setidaknya ada 200-an perajin, yang masih dibuat sebagai usaha rumahan.

Beberapa produk yang dihasilkan diantaranya dinner set, kitchen set, aksesoris interior, eksterior, guci, vas, pot, dan lain-lain.

"Untuk harga sendiri tergantung dengan kualitas gerabahnya," jelasnya.

Salah satu pengusaha gerabah, Suci Larasati mengungkapkan, bila sentra gerabah Desa Melikan memiliki ciri khas dalam pembuatan.

Baca juga: Kunjungi Sentra Perajin Melikan Klaten, Puan Maharani Tengok Pembuatan Gerabah

Teknik menggunakan alat putaran miring, yang menjadi satu-satunya di dunia.

"Selain itu ada teknik putaran tegak dan molding," paparnya.

Putaran miring diungkapkan ada sejak lama, dan digunakan oleh kaum perempuan untuk memproduksi gerabah.

"Dulu saat yang lelaki berperang, maka wanita yang bekerja. Karena menggunakan jarik, maka posisinya miring," ungkapnya.

Sementara untuk alat putaran tegak mulai ada sejak tahun 2000, dimana hal tersebut untuk membuat gerabah besar seperti pot dan guci.

Proses pembuatan tidak sampai 5 menit.

"Hanya proses finishing dan pembakaran yang memakan waktu," jelasnya.

Pembakaran sekitar 8 jam dengan api kecil, lalu api besar hingga matang.

"Total sekitar 10-12 jam pembakaran, lalu reduksi atau pengasapan sekitar 3-4 jam," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved