Viral Warung Kejujuran di Klaten

Keuntungan Warung Kejujuran di Klaten Jateng, Ternak 4 Sapi Hingga Piknik Warga

Keuntungan dari pengelolaan warung kejujuran di lereng Gunung Merapi Wilayah Klaten, dikembalikan lagi untuk kesejahteraan masyarakat.

Penulis: Zharfan Muhana | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com / Zharfan Muhana
Warung kejujuran warga lereng Merapi, di RT 027 RW 009, Dukuh Mbangan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Keuntungan dari pengelolaan warung kejujuran di lereng Gunung Merapi Wilayah Klaten, dikembalikan lagi untuk kesejahteraan masyarakat.

Warung kejujuran ini berada di RT 027/RW 009, Dusun Mbangan, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang.

Sudah 14 tahun berjalan, warung kejujuran ini belum pernah rugi. 

Ibu Ketua RT setempat, Suprihatin mengatakan bila laba atau keuntungan dibagi setahun sekali.

"Laba setiap tahun kita bagi. Kemarin berbentuk camilan lebaran, ada juga alat rumah tangga misal wajan, panci, dibagi per KK," ujar Suprihatin.

Baca juga: Total Aset Warung Kejujuran di Lereng Merapi Klaten Jateng Capai Rp50 Juta, Berawal dari Rp140 Ribu

Selain itu, pembagian juga berbentuk wisata bersama.

"Setiap 2 tahun sekali kita memang healing lah ibu-ibu biar gak sepaneng," ucap dia sambil tertawa.

"Kegiatan kita paling di kebun, ngarit, (piknik) sekedar hiburan dan cari suasana lain," imbuhnya.

Selain warung kejujuran, pihaknya juga mengelola simpan-pinjam, juga ternak sapi dari hasil pengembangan warung.

"Bukan hanya sembako, kita juga ada simpan pinjam, juga ternak," ucapnya.

Ternak sapi sendiri dilakukan, dengan mengunakan sistem gaduh.

Baca juga: 3 Fakta Warung Kejujuran di Klaten Jateng : Diurus 26 Emak-emak, Berdiri Pasca Erupsi Merapi 2010

Sistem gaduh merupakan sistem pemeliharaan ternah dimana pemilik hewan ternak mempercayakan pemeliharaan ternak kepada penggaduh (orang yang dipercayakan memelihara) dengan imbalan bagi hasil. 

"Total ada 4 sapi di sistem gaduh, jadi anggota wajib untuk ngopeni," jelasnya.

Gaduh sapi sendiri dilakukan dengan kopyok kertas, dimana yang mendapatkan diwajibkan memelihara sapi tersebut.

"Setiap tahun kopyok, jadi rata," kata Suprihatin.

"Yo nak rekoso dirasakne bareng, ada enaknya dinikmati bareng," tutupnya.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved