Mayat Mengambang di Kali Anyar Solo

Mengenal Kali Anyar Solo, Tempat Ditemukannya Mayat Pria Terikat, Dulu Proyek Belanda

Selain Bengawan Solo yang ikonik menyimpan nilai sejarah di dalamnya, sebut saja Kali Anyar.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Istimewa
EVAKUASI MAYAT - Penemuan mayat pria tanpa identitas dengan kondisi tangan terikat terjadi di sungai Kali Anyar, Mojosongo, Jebres, Solo, Rabu (26/3/2025). Kali Anyar ternyata memiliki sejarah panjang saat penjajahan Belanda. 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Geger penemuan mayat pria terikat di sungai Kali Anyar, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo pada (26/3/2025) lalu.

Setelah mengundang teka-teki, mayat di Kalianyar telah diketahui identitasnya.

Sosok tersebut berinisial AH (75) warga Kota Depok Jawa Barat.

Baca juga: Fakta Terkini Temuan Mayat Terikat di Kali Anyar Solo, Mati Lemas Kehabisan Nafas

Hal tersebut diungkap Kapolresta Solo Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo lewat Kasat Reskrim Polresta Solo AKP Prastiyo Triwibowo.

"Untuk identitas inisial AH, lahir tahun 1950 atau sekitar umur 75 tahun dan domisili di Kota Depok (Jawa Barat)," ungkap Prastiyo, Senin (7/4/2025) sore.

Setelah proses autopsi, jenazah korban juga telah dijemput oleh anaknya dan telah dimakamkan.

"Untuk posisi saat ini telah dibawa anak kandungnya dan sudah dimakamkan," lanjut dia.

Asal-usul Kali Anyar

Selain Bengawan Solo yang ikonik seperti lagu yang dipopulerkan Gesang, banyak juga sungai lainnya menyimpan nilai sejarah di dalamnya, sebut saja Kali Anyar.

Seperti yang ditulis Qomarun dan Budi Prayitno menulis dalam jurnal Dimensi Teknik Arsitektur berjudul Morfologi Kota Solo (1500-2000) yang terbit pada tahun 2007, bahwa sejumlah elit pernah mengupayakan penanggulangan banjir di Solo.

Baca juga: Sosok AH, Warga Jabar Ditemukan Tewas Terikat di Kali Anyar Solo, Ternyata Pamit Berobat Alternatif

Sejak memasuki interval di abad ke-16, kemunculan moda transportasi kereta api meningkatkan mobilitas dan produkis masyarakat.

Penggunaan kereta api mendorong peningkatan produktivitas kerja pribumi lewat pemberlakuan sistem tanam paksa 1830. 

"Sistem tanam paksa yang pernah dimunculkan di tahun 1830, berakibat gundulnya hutan-hutan di daerah hinterland, sehingga secara akumulatif tanah-tanah daratan longsor," imbuh Qomarun dan Budi.

Kelongsoran tanah agaknya bukan masalah sepele.

Baca juga: Fakta Temuan Mayat Terikat di Kali Anyar Solo: Ternyata Tubuh dan Tangan Ikut Terikat dengan Tas

Tercatat, akibat terjadinya tanah longsor di tepian sungai berakibat pada penyempitan dan pendangkalan permukaan sungai.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved