Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Fakta Menarik Tentang Karanganyar

Kisah Menarik Dibangunnya Tugu Boto di Klodran Colomadu Karanganyar, Hasil Gotong Royong Warga

Tugu Boto ini bukan sekadar tumpukan batu dan bata, melainkan saksi kebersamaan serta gotong royong warga Klodran

Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
Google Maps Tugu Boto Klodran Diambil 2020
IKON KLODRAN - Tugu lokal yang terkenal di Desa Klodran bernama Tugu Boto. Beginilah asal-usul Tugu Boto, bangunan ikonik di Klodran, Karanganyar, Jawa Tengah. 

TRIBUNSOLO.COM - Ada bangunan ikonik di Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar yang sudah tersohoro sejak dulu, yakni Tugu Boto.

Di sini, titik di mana banyak janjian untuk bertemu entah untuk titik kumpul atau untuk keperluan jual beli.

Tugu Boto ini bukan sekadar tumpukan batu dan bata, melainkan saksi kebersamaan serta gotong royong warga Klodran yang berproses panjang sejak tahun 1966 hingga akhirnya rampung pada 1997.

Awalnya, lokasi Tugu Boto merupakan lahan yang direncanakan untuk pembangunan Kantor Desa Klodran.

Pada September 1966, pondasi kantor bahkan sudah mulai dikerjakan.

Baca juga: Asal Usul Sondokoro di Karanganyar jadi Julukan PG Tasikmadu, Ada Legenda Kiai Sondo dan Kiai Koro

Namun, karena situasi politik pasca-1965 yang tidak menentu serta keterbatasan dana, rencana tersebut dibatalkan oleh pemerintah kabupaten. Proyek yang terlanjur dimulai pun terbengkalai.

Daripada membiarkan tanah kosong tak terurus, Kepala Desa Hendri saat itu mengusulkan pembangunan sebuah monumen.

Gagasan ini bukan semata untuk mengganti bangunan yang gagal berdiri, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan semangat Pancasila yang perlu diteguhkan di tengah kondisi masyarakat desa yang sempat terpecah.

Pembangunan Tugu Boto berjalan bukan karena sokongan dana besar, melainkan karena tekad warga Klodran sendiri.

Setiap kepala keluarga diwajibkan menyumbang 500 buah bata merah mentah.

Para perangkat desa kemudian mengolahnya dengan cara membakar bata menggunakan kayu bakar.

Warga juga bahu-membahu mengangkut batu kali dari sungai sekitar untuk memperkuat fondasi yang ditanam sedalam dua meter.

Tak hanya itu, pasir kali hingga ratusan sak semen pun dipikul dan diangkut secara gotong royong.

Tak ada tenaga profesional khusus. Warga bekerja dengan sistem giliran yang diatur pemerintah desa.

Ada yang bertugas mengumpulkan material, ada yang membakar bata, ada pula yang membangun struktur tugu.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved