Pria Tewas di Waduk Tandon Wonogiri

Fakta Lain Waduk Tandon di Wonogiri Tempat Tewasnya Warga Singodutan, Dulunya Pemukiman Dua Dusun

Dahulu, Waduk Tandon adalah permukiman yang terdiri atas dua dusun di Desa Pare. Namun saat pembangunan waduk, warga setempat pindah.

KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA
WISATA WONOGIRI - Potret Waduk Tandon atau Waduk Krisak di Wonogiri yang dikelilingi perbukitan, 6 September 2020 lalu. Berikut daftar tempat ngabuburit di Wonogiri, Jawa Tengah. (KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA) 

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Penemuan tubuh pria tersungkur tak bernyawa di Waduk Tandon Selogiri, Wonogiri, menggegerkan warga setempat.

Sosok itu belakangan diketahui bernama Tri Yatno (55), warga Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri.

Penemuan jasad terjadi pada Sabtu (27/9/2025) sekitar pukul 05.15 WIB.

Warga yang hendak menjaring ikan dikejutkan dengan tubuh Tri Yatno tergeletak di tepi waduk, tak lagi bernyawa.

Seperti apakah Waduk Tandon yang menjadi lokasi tempat ditemukannya mayat Tri Yatno ini?

DIEVAKUASI - Tri Yatno (55), warga Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, ditemukan meninggal dunia di tepi Waduk Tandon Selogiri Wonogiri, pada Sabtu (27/9/2025). Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang sedang mencari ikan.
DIEVAKUASI - Tri Yatno (55), warga Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, ditemukan meninggal dunia di tepi Waduk Tandon Selogiri Wonogiri, pada Sabtu (27/9/2025). Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang sedang mencari ikan. (Istimewa)

Waduk Tandon atau dikenal juga sebagai Waduk Krisak di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah terletak sekitar 3-6 kilometer dari pusat kota Wonogiri.

Lokasi tersebut berjarak kurang lebih 28 kilometer atau 53 menit berkendara kendaraan dari kota Solo.

Uniknya waduk itu tak dikenal sebagai sumber pengairan dan tempat wisata air di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah.

Soal kenapa namanya disebut tandon, sebenarnya memiliki makna mirip kata "waduk". 

Sampai saat ini, banyak warga menyebutnya Waduk Tandon atau Waduk Krisak atau Tandon Krisak.

Baca juga: Kronologi Warga Singodutan Tewas di Tepi Waduk Tandon Wonogiri, Sempat Pamit ke Tetangganya

Tentang asal-usul pembangunannya, waduk ini dibangun sekitar tahun 1942 atau pada akhir masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, ketika memasuki era penjajahan Jepang.

Dahulu, Waduk Tandon adalah permukiman yang terdiri atas dua dusun di Desa Pare. 

Ketika pembangunan waduk, warga setempat kemudian pindah ke daerah sekitar yang tidak digenangi air.

DIEVAKUASI - Tri Yatno (55), warga Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, ditemukan meninggal dunia di tepi Waduk Tandon Selogiri Wonogiri, pada Sabtu (27/9/2025). Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang sedang mencari ikan.
DIEVAKUASI - Tri Yatno (55), warga Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, ditemukan meninggal dunia di tepi Waduk Tandon Selogiri Wonogiri, pada Sabtu (27/9/2025). Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang sedang mencari ikan. (Istimewa)

Bila musim kemarau tiba dan waduk surut, bekas pemukiman bisa terlihat jelas.

Bahkan ada bekas sumur terlihat di dasar waduk yang mengering.

Waduk Tandon Krisak dibangun dengan luas 3,5 kilometer persegi.

Waduk ini mampu menampung volume air sebesar 3.152.000 m3.

Adapun kegunaannya yakni sumber irigasi bagi 874 hektare sawah di wilayah Kecamatan Selogiri.

Kawasan ini bisa dikunjungi secara gratis.

Punya Kisah Mistis

Di balik fungsi utamanya, waduk yang dibangun sejak masa penjajahan ini menyimpan cerita mistis yang masih diyakini hingga kini.

Salah satu legenda paling terkenal di sekitar Waduk Tandon adalah kisah Nyi Gadung Mlati, sosok wanita misterius yang dipercaya sebagai danyang atau penunggu gaib waduk tersebut.

Baca juga: BREAKING NEWS : Warga Singodutan Tewas di Tepi Waduk Tandon Wonogiri, Diduga Serangan Jantung

Menurut cerita turun temurun, legenda Nyi Gadung Mlati bermula menjelang pembukaan waduk puluhan tahun silam.

Saat itu, sejumlah warga mengaku menyaksikan penampakan wanita cantik berpakaian serbaputih yang dihiasi bunga melati, berjalan perlahan sambil diiringi ribuan ikan pari.

Keberadaan ikan pari dalam jumlah besar itu menambah aura mistis penampakan tersebut.

Warga percaya ikan-ikan itu bukan sekadar hewan biasa, melainkan simbol keberkahan dan kehadiran gaib Nyi Gadung Mlati.

Saking kuatnya energi spiritual yang dipercaya berasal dari kemunculan Nyi Gadung Mlati, sejumlah warga yang menyaksikannya kala itu jatuh pingsan. 

Meski zaman telah bergeser ke era modern, kepercayaan terhadap sosok Nyi Gadung Mlati tak serta merta luntur.

(*)

 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved