Tas Anyaman Sragen Tembus Dunia

Berkah Usaha Tas Anyaman, Emak-emak di Sragen Mampu Pekerjakan 80 Karyawan

Emak-emak di Sragen mendapat berkah dari usaha tas anyamannya. Dia mampu mempekerjakan puluhan karyawan dari usaha itu.

Tayang:
Penulis: Septiana Ayu Lestari | Editor: Ryantono Puji Santoso
TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari
TELITI. Pekerja di tempat produksi tas anyaman milik Nur Handayani di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026). Tas tersebut sudah diekspor ke luar negeri. 
Ringkasan Berita:
  • Nur Handayani (50), pengusaha Tas Anyaman Azalea asal Sragen, mempekerjakan sekitar 80 penganyam, mayoritas ibu rumah tangga dari Sragen dan sebagian Karanganyar.
  • Upah penganyam bervariasi Rp2.000–Rp10.000 per biji, bahkan bisa menghasilkan lebih dari Rp3,5 juta per bulan untuk tas jali-jali yang rumit.
  • Saat ini Nur kesulitan mencari penganyam muda karena banyak memilih kerja pabrik, meski sebagian mantan pekerjanya sukses membuka usaha serupa.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Dalam menjalankan usaha produksi Tas Anyaman Azalea, Nur Handayani (50), warga Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, tidak sendiri.

Ia dibantu sekitar 80 orang, baik yang bekerja di toko miliknya maupun para penganyam yang mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing.

Kebanyakan penganyam merupakan warga sekitar tempat usaha Nur Handayani.

Namun, sebagian lainnya berasal dari Kabupaten Karanganyar.

“Jumlah penganyam ada sekitar 80 orang. Sekarang banyak yang sudah tidak menganyam lagi karena pindah ke luar kota, ada yang bekerja di luar kota, dan ada juga yang sudah meninggal,” ujarnya saat ditemui TribunSolo.com, Jumat (2/1/2026).

TAS ANYAMAN - Tas anyaman yang diproduksi Nur Handayani (50), emak-emak asal Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026). Usaha tas anyaman bernama bandar Azalea itu telah masuk dan diekspor ke pasar 7 negara.
TAS ANYAMAN - Tas anyaman yang diproduksi Nur Handayani (50), emak-emak asal Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026). Usaha tas anyaman bernama bandar Azalea itu telah masuk dan diekspor ke pasar 7 negara. (TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari)

Mayoritas Pekerja Ibu Rumah Tangga

Mayoritas yang dipekerjakan adalah ibu rumah tangga yang sudah memiliki anak, namun belum bekerja.

Upah pembuatan tas anyaman bervariasi, mulai dari Rp2.000 untuk model paling mudah dan berukuran kecil, hingga bisa mencapai Rp10.000 per biji untuk tas yang rumit.

“Kalau fokus membuat tas khusus jali-jali, upahnya justru lebih besar dibanding bekerja di pabrik. Setelah pekerjaan rumah selesai, fokus menganyam bisa dapat Rp3.500.000 lebih kadang-kadang dalam satu bulan,” jelasnya.

“Kalau yang biasa itu upahnya Rp2.000, kalau jali-jali rata-rata Rp10.000. Kalau bisa rampung dalam sehari, bisa dapat Rp2.500 per biji,” tambahnya.

Menurutnya, kecepatan penganyam dalam membuat tas berbeda-beda.

Ada yang dalam sehari bisa menyelesaikan lebih dari 10 tas, ada pula yang kurang.

Baca juga: Rutin Ekspor ke Jepang-Korea, Omzet Usaha Tas Anyaman Emak-emak di Sragen Tembus Rp300 Juta/Bulan

“Kalau untuk ekspor bisa 10 tas, kadang lebih. Kecepatannya berbeda-beda. Kalau sehari setor minimal 10 tas, dikasih bonus,” ucapnya.

Ia mengungkapkan saat ini kesulitan mencari penganyam baru dari kalangan muda, karena rata-rata memilih bekerja sebagai buruh pabrik.

Dengan bekal keterampilan menganyam tas tersebut, sebagian pekerja Nur yang kini tinggal di luar kota bahkan sudah membuka usaha serupa. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved