Tas Anyaman Sragen Tembus Dunia

Nur Handayani di Sragen Sukses Usaha Tas Anyaman, Berawal dari Arisan Ibu-ibu RT

Semangat Nur Handayani patut diacungi jempol, dia membuka usaha tas anyaman yang bisa mendunia.

TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari
TAS ANYAMAN - Tas anyaman yang diproduksi Nur Handayani (50), emak-emak asal Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026). Usaha tas anyaman bernama bandar Azalea itu telah masuk dan diekspor ke pasar 7 negara. 

Ringkasan Berita:
  • Nur Handayani (50) merintis usaha tas anyaman Azalea dari tabungan Rp800.000, berawal dari keterampilan menganyam yang didapat saat arisan ibu-ibu RT, hingga kini produknya diekspor ke tujuh negara.
  • Awalnya pekerja proyek di Solo, Nur memilih fokus berwirausaha setelah melihat anyaman tas bisa membantu warga kecil, termasuk anak sekolah dan lansia, untuk tetap berpenghasilan.
  • Kini produknya beragam dengan harga Rp5.000 hingga Rp1 juta, dan usahanya melibatkan 80 penganyam dari berbagai kalangan.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Terdapat kisah perjalanan panjang yang dilalui Nur Handayani (50) dalam merintis usaha tas anyaman Azalea yang kini telah diekspor ke tujuh negara.

Sembari menganyam tas kecil yang akan dikirim ke Jepang, Nur bercerita awalnya ia merupakan pekerja proyek di Solo.

Karena waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja, Nur akhirnya berpikir untuk memiliki usaha sendiri.

Keterampilan membuat anyaman tas ia dapatkan saat mengikuti arisan ibu-ibu RT.

Saat itu, arisan tersebut mengundang guru khusus untuk mengajari menganyam tas.

Dari 20 ibu-ibu yang mengikuti arisan, hanya tiga orang yang bisa membuat anyaman tas, termasuk dirinya.

“Dulu ibu rumah tangga, awalnya kerja di Solo di proyek-proyek. Lama-lama kayak harus mikir proyek lain, cari kerja terus. Enak ya kalau punya usaha. Terus akhirnya tas ini, awalnya lakunya sedikit, sempat kepikiran balik kerja ke Solo lagi,” katanya kepada TribunSolo.com, Jumat (2/1/2026).

Kemudian, Nur berkeliling ke kampung-kampung untuk mencari penganyam tas.

Saat itu, ia bertemu seorang anak kelas 4 SD yang masih mengenakan seragam sekolah.

Anak tersebut tampak sarapan siomay sambil membuat tas anyaman.

“Mau ke sekolah, pas sarapan itu sambil buat tas. Yang bikin katanya bukan ibunya, ibunya ke sawah, bapaknya sakit tidak bisa kerja. Dia bikin tas biar bisa bayar SPP. Dari situ saya lanjut bikin tas terus,” jelasnya.

“Terus ada orang tua, kalau tidak ada tas pusing mau ngapain karena lansia, umurnya 90 lebih. Oh berarti bisa nolong orang. Akhirnya tidak jadi ke Solo lagi. Juga ada bapak-bapak sakit paru-paru, bisanya menganyam tas, kerjanya tidak berat. Itu yang membuat saya tidak jadi kerja ke Solo lagi,” sambungnya.

TAS ANYAMAN - Nur Handayani (50) sedang menganyam tas berwarna biru yang akan diekspor ke Jepang, saat ditemui TribunSolo.com di rumahnya di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026). Usaha tas anyaman bernama bandar Azalea itu telah masuk dan diekspor ke pasar 7 negara.
TAS ANYAMAN - Nur Handayani (50) sedang menganyam tas berwarna biru yang akan diekspor ke Jepang, saat ditemui TribunSolo.com di rumahnya di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026). Usaha tas anyaman bernama bandar Azalea itu telah masuk dan diekspor ke pasar 7 negara. (TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari)

Kuras Tabungan untuk Modal

Nur menyebut, untuk merintis usahanya ini ia harus menggunakan uang tabungannya yang saat itu hanya tersisa Rp800.000.

Uang tabungan tersebut digunakan untuk membeli bahan baku.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved