Kisah Pengusaha Selada
Sukses Usaha Selada Ala Warga Sragen, Modal Rp800 Ribu, Berawal dari Satu Meja
Usaha Selada ala Warga Sragen ini terus berkembang. Dia membagikan kisah memulai usaha ini.
Penulis: Septiana Ayu Lestari | Editor: Ryantono Puji Santoso
Ringkasan Berita:
- Hediono (32), warga Desa Majenang, Sukodono, Sragen, merintis usaha budidaya selada hidroponik sejak 2018.
- Berawal dari hobi sejak 2017 dengan modal Rp800 ribu untuk satu meja tanam, kini kebunnya seluas 800 meter persegi dengan sekitar 10.000 lubang tanam, meski menghadapi tantangan cuaca dan hama di dataran rendah.
- Usaha selada dan sawi ini menghasilkan omzet Rp20–25 juta per bulan, bahkan Rp30 juta saat libur Nataru, meski belum mencapai BEP karena terus melakukan pengembangan.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Warga Desa Majenang, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, merintis dari nol usaha budidaya selada yang telah ia tekuni sejak tahun 2018.
Hediono (32) sebelumnya merupakan kepala operasional cabang pabrik beton dan sempat berkantor di Tangerang, kemudian dipindah ke Solo dan Yogyakarta.
Di tengah kesibukannya tersebut, Hediono mencoba mengembangkan hobi bercocok tanam.
"Dimulai tahun 2017, saat itu masih bekerja. Saya mencari informasi tanaman yang tidak perlu sering disiram karena masih kerja. Dari YouTube tertarik hidroponik, lalu mulai bertanam coba-coba dalam skala hobi," katanya saat ditemui TribunSolo.com di kebun miliknya, Rabu (14/1/2026).
Karena dinilai berhasil, pada tahun 2018 ia memutuskan untuk resign dari tempat kerja dan mengembangkan budidaya selada dalam skala produksi.
"Dulu modal awal Rp 800.000 untuk satu meja. Dari situ mulai belajar. Saat Covid-19 usaha mulai berkembang, mejanya bertambah setiap tahun. Sekarang punya sekitar 10.000 lubang tanam dewasa," jelasnya.
"Sekarang luas kebun kurang lebih 800 meter persegi. Dulu masih satu meja dengan 300 lubang tanam," sambungnya.
Bertanam selada di dataran rendah menjadi tantangan tersendiri bagi Hediono karena tidak semudah jika ditanam di dataran tinggi.
"Kendala cuaca paling berpengaruh karena tidak bisa disetting. Selain itu ada serangan hama. Pakai sistem greenhouse bisa, tapi harus standar dengan budget yang cukup besar. Karena di dataran rendah, sirkulasi udara juga harus diperhatikan," jelasnya.
Baca juga: Warga Sragen Sukses Usaha Selada: Berawal Resign dari Kantor, Omzet Tembus Rp20 Juta Per Bulan
Usaha Terus Berkembang
Usahanya terus berkembang dan kini omzet yang diperoleh mencapai Rp 20.000.000 hingga Rp 25.000.000 per bulan.
Pada momen libur Natal dan Tahun Baru lalu, Hediono bahkan mampu meraih pemasukan hingga Rp 30.000.000.
Meski penghasilannya cukup menjanjikan, ia menuturkan usahanya belum mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP), yakni kondisi ketika total pendapatan sama dengan total biaya.
"Karena modelnya bertahap, ada penambahan modal untuk meja setiap tahun. Kalau usaha awalnya sudah BEP, tapi untuk pengembangan ini belum BEP karena terus menambah," jelasnya.
"Harga jual rata-rata Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilogram untuk selada hijau, baby romaine, dan head lettuce. Selada merah lebih mahal, Rp 30.000 sampai Rp 40.000 per kilogram. Sementara sawi sendok Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per kilogram," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Kebun-Selada-Sragen-2.jpg)