Kisah Pengusaha Selada
Mengulik Cara Petani Sukodono Sragen Budidaya Selada dengan Sistem Hidroponik, Mampu Panen Tiap Hari
Dengan metode hidroponik, ia menghemat tenaga, waktu dan biaya produksi, sekaligus menunjukkan bahwa bertani bisa dilakukan dengan lebih ringan
Penulis: Septiana Ayu Lestari | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- Di lahan 800 meter persegi, Hediono mengembangkan budidaya selada hidroponik dengan 10.000 lubang tanam dan mampu panen setiap hari sejak 2021–2022
- Metode hidroponik membuat biaya produksi lebih efisien karena hanya membutuhkan 2–3 pekerja serta tidak memerlukan pengolahan tanah
- Sistem tanam berkelanjutan memungkinkan panen sekitar 40 kilogram selada per hari, sekaligus menghemat waktu dan tenaga petani
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari
TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Hediono, petani selada asal Desa Majenang, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, mampu menuai hasil memanen dari tanamannya setiap hari, menggunakan media tanam berupa lahan seluas 800 meter persegi.
Dengan metode hidroponik, ia berhasil menghemat tenaga, waktu, dan biaya produksi, sekaligus menunjukkan bahwa bertani bisa dilakukan dengan cara yang lebih ringan dan efisien dibandingkan metode konvensional.
Hediono mulai menekuni budidaya selada hidroponik sejak tahun 2018.
Seiring berjalannya waktu, usaha yang dirintisnya terus berkembang hingga kini memiliki sekitar 10.000 lubang tanam hidroponik di lahan seluas 800 meter persegi.
Efisiensi Tenaga Kerja Jadi Kunci
Menurut Hediono, efisiensi paling besar dari budidaya hidroponik terletak pada penggunaan tenaga kerja.
Jika pada pertanian konvensional biaya tenaga kerja menjadi komponen pengeluaran tertinggi, hal tersebut dapat ditekan melalui sistem hidroponik.
“Di hidroponik ini sangat efisien. Biasanya biaya produksi pertanian paling tinggi di tenaga kerja. Dengan luas kebun seperti ini, cukup dua sampai tiga orang saja, jadi biaya bisa ditekan,” ujar Hediono saat ditemui, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, para pekerja di kebunnya juga tidak perlu bekerja seharian penuh. Perawatan tanaman dilakukan pada pagi dan sore hari, sehingga aktivitas kerja lebih ringan namun tetap produktif.
Hemat Waktu dan Tenaga
Selain efisiensi tenaga kerja, metode hidroponik juga menghilangkan proses pengolahan tanah seperti pada pertanian sawah.
Setelah panen, instalasi hidroponik cukup dibersihkan dan dapat langsung digunakan kembali untuk penanaman berikutnya.
“Tidak perlu olah tanah. Setelah panen, kita cuci tempat hidroponiknya, lalu saat itu juga bisa ditanami lagi. Jadi lebih hemat tenaga dan waktu,” jelasnya.
Sistem ini memungkinkan siklus tanam berjalan lebih cepat tanpa jeda panjang, sehingga produktivitas lahan dapat dimaksimalkan.
Baca juga: Warga Sragen Sukses Usaha Selada: Berawal Resign dari Kantor, Omzet Tembus Rp20 Juta Per Bulan
Panen Setiap Hari dengan Sistem Bertahap
Dengan pola tanam berkelanjutan tersebut, Hediono kini mampu memanen selada setiap hari.
Pola panen harian ini telah ia jalankan sejak tahun 2021–2022 dan terus berlanjut hingga sekarang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Petani-di-Desa-Majenang-Kecamatan-Sukodono-Kabupaten-Sragen-membudidayakan-selada-3.jpg)