Ramadan 2026

Nahdlatul Ulama Karanganyar Tunggu Hasil Sidang Isbat untuk Menentukan 1 Ramadan 1447 H

PCNU Karanganyar menunggu hasil sidang isbat. Mereka akan mengikuti keputusan dari sidang tersebut.

Tayang:
TribunSolo.com/Dok Assalaam
ILUSTRASI. Kegiatan rukyatul hilal digelar menjelang Hari Raya Idul Adha di Observatorium Assalaam Solo itu dilakukan pada Sabtu (10/7/2021) sejak pukul 15.30 WIB silam. Nahdlatul Ulama Karanganyar menunggu hasil sidang isbat. (istimewa) 
Ringkasan Berita:
  • PCNU Karanganyar masih menunggu hasil sidang isbat penentuan awal Ramadan 1447 H. Saat ini masih tanggal 29 Syakban, keputusan puasa menunggu hasil rukyatul hilal.
  • Pemantauan hilal dilakukan Kemenag Karanganyar di Candi Sukuh, kaki Gunung Lawu, dengan tambahan alat modern meski sebelumnya hilal sering tidak terlihat.
  • Kemenag menilai masyarakat makin dewasa menyikapi perbedaan awal Ramadan dan Idul Fitri, serta mengajak menjadikan Ramadan momentum meningkatkan kepedulian sosial.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Nahdlatul Ulama di Kabupaten Karanganyar masih menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar Selasa (17/2/2026) malam.

Dalam sidang itu, akan disampaikan hasil laporan pemantauan rukyatul hilal Ramadan.

Ketua PCNU Kabupaten Karanganyar, KH Nuril Huda, mengatakan saat ini masih tanggal 29 bulan Syakban.

"Sidang isbatnya baru nanti malam. Hari ini masih tanggal 29 Syakban, kami masih menunggu hasil sidang," kata Nuril, Selasa (17/2/2026).

Nuril mengatakan, dalam sidang isbat akan disampaikan hasil laporan pemantauan rukyatul hilal Ramadan.

Ia mengatakan dari hasil itu akan ditentukan awal 1 Ramadan 1447 H.

"Bila nanti ada laporan rukyah berhasil, maka besok puasa, dan bila laporannya tidak berhasil semua, maka puasa dimulai Kamis," ucap dia.

Pemantauan rukyatul hilal Ramadan dilakukan oleh Kemenag RI Kabupaten Karanganyar.

Pemantauan akan dilakukan di kawasan Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Selasa (17/2/2026) sore.

Pelaksanaan pemantauan rukyatul hilal ini akan dilakukan di kaki Gunung Lawu dengan menggunakan alat yang lebih modern.

ILUSTRASI. Pantauan hilal yang dilakukan di Pusat Astronomi Pondok Pesantren Assalam Sukoharjo untuk menentukan 1 Ramadhan 1445 Hijriah, Minggu (10/3/2024). Nahdlatul Ulama Karanganyar menunggu hasil sidang isbat.
ILUSTRASI. Pantauan hilal yang dilakukan di Pusat Astronomi Pondok Pesantren Assalam Sukoharjo untuk menentukan 1 Ramadhan 1445 Hijriah, Minggu (10/3/2024). Nahdlatul Ulama Karanganyar menunggu hasil sidang isbat. (TribunSolo.com / Andreas Chris)

Pengamatan Hilal dari Candi Sukuh

Kepala Kemenag Karanganyar, Hidayat Masykur, mengatakan pemantauan rukyatul hilal direncanakan dilakukan di kawasan Candi Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.

Hidayat menyampaikan bahwa lokasi tersebut kembali dipilih sebagai titik pemantauan hilal seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Untuk pemantauan rukyatul hilal sementara akan kita laksanakan tanggal 17 di Ngargoyoso, tepatnya di Candi Sukuh,” kata Hidayat, Jumat (13/2/2026).

Hidayat menuturkan, dalam beberapa tahun terakhir hilal kerap tidak terlihat dari lokasi tersebut.

Meskipun demikian, tahun ini Kemenag Karanganyar telah menambah peralatan baru yang lebih modern untuk mendukung proses rukyat.

“Sekarang Kemenag Karanganyar sudah mendapatkan alat tambahan yang lebih modern. Nanti kita sekalian belajar. Soal terlihat atau tidak, wallahualam. Kadang yang sudah senior dan berpengalaman pun belum tentu bisa melihat,” ungkap dia.

Baca juga: Hilal Sering Tak Terlihat di Candi Sukuh, Kini Kemenag Karanganyar Gunakan Teropong Modern

Ia berharap, dengan adanya peralatan baru tersebut, proses pemantauan hilal dapat berjalan lebih optimal.

Kemudian, soal potensi perbedaan awal Ramadan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam seperti Muhammadiyah, Hidayat menilai masyarakat Karanganyar sudah semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan.

"Insyaallah masyarakat sekarang sudah mulai memahami tentang khilafiyah ini. Di Kabupaten Karanganyar sendiri sudah disadarkan bahwa perbedaan itu hal biasa dan selama ini kondusif serta tidak ada masalah," tuturnya.

Soal kemungkinan perbedaan hari pelaksanaan Idul Fitri, Kemenag akan melakukan pemetaan apabila terjadi perbedaan hari salat Id.

Ia mengajak masyarakat memaknai Ramadan sebagai momentum meningkatkan kepedulian sosial, terutama di tengah situasi berbagai bencana yang melanda sejumlah daerah.

“Kalau nanti ada perbedaan hari, tentu kita akan memetakan siapa yang salat lebih awal dan siapa yang salat lebih akhir. Itu jelas akan kita atur supaya tetap tertib dan kondusif,” tegasnya.

“Dalam situasi negara yang sedang banyak ujian, seperti banjir dan tanah longsor, Ramadan ini semoga bisa memberi nilai lebih dalam kepedulian sesama. Saling membantu, saling menjaga, dan memberi, termasuk kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” pungkas dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved