Larangan Mengajar Guru Honorer

Kisah Pilu Guru Honorer Sragen, Pernah Mengajar Digaji Nol Rupiah Selama Bertahun-tahun

Kini, guru honorer SMPN 1 Sragen itu kembali dihantui kecemasan setelah muncul wacana penghapusan guru honorer mulai 1 Januari 2027.

Tayang:
TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
PERNAH TAK DIGAJI - Ilustrasi SMPN 1 Sragen, Rabu (13/5/2026). Dwi Kristiani Mulyaningsih, salah satu guru honorer di SMPN 1 Sragen sudah menjadi guru berstatus honorer selama 24 tahun. Kini, munculnya wacana penghapusan guru honorer justru membuat dirinya dan rekan-rekan sesama guru non-ASN semakin cemas. 
Ringkasan Berita:
  • Guru honorer SMPN 1 Sragen, Dwi Kristiani, mengaku pernah mengajar tanpa menerima gaji dari sekolah maupun pemerintah.
  • Dwi telah mengabdi selama 24 tahun dan baru menerima tunjangan profesi guru sejak 2009 sebesar Rp 2 juta.
  • Wacana penghapusan guru honorer mulai 2027 membuat guru non-ASN di Sragen khawatir dan berharap ada regulasi baru serta pengangkatan ASN.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto 

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Selama puluhan tahun mengabdi sebagai guru, Dwi Kristiani Mulyaningsih mengaku pernah mengajar tanpa menerima gaji sepeser pun dari sekolah maupun pemerintah.

Kini, guru honorer SMPN 1 Sragen itu kembali dihantui kecemasan setelah muncul wacana penghapusan guru honorer di sekolah negeri mulai 1 Januari 2027.

“Saya sebagai guru sudah mengajar selama 24 tahun, 22 tahun di swasta dan 2 tahun di SMPN 1 Sragen,” kata Dwi saat ditemui, Rabu (13/5/2026).

WAS-WAS - Sosok Dwi Kristiani Mulyaningsih, salah satu guru honorer di SMPN 1 Sragen, saat ditemui TribunSolo.com, Rabu (13/5/2026). Dwi Kristiani Mulyaningsih sudah menjadi guru berstatus honorer selama 24 tahun. Kini, munculnya wacana penghapusan guru honorer justru membuat dirinya dan rekan-rekan sesama guru non-ASN semakin cemas.
WAS-WAS - Sosok Dwi Kristiani Mulyaningsih, salah satu guru honorer di SMPN 1 Sragen, saat ditemui TribunSolo.com, Rabu (13/5/2026). Dwi Kristiani Mulyaningsih sudah menjadi guru berstatus honorer selama 24 tahun. Kini, munculnya wacana penghapusan guru honorer justru membuat dirinya dan rekan-rekan sesama guru non-ASN semakin cemas. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

Guru mata pelajaran PKN tersebut mengaku khawatir apabila kebijakan penghapusan guru honorer benar-benar diterapkan tanpa solusi yang jelas dari pemerintah pusat.

Selama mengajar, Dwi mengaku pernah berada di masa sulit ketika harus tetap mengabdi tanpa menerima gaji.

Baca juga: Wacana Penghapusan Guru Honorer, Guru Honorer SMPN 1 Sragen yang Sudah Mengabdi 24 Tahun Cemas

“Upah dari sekolah tidak dapat, nol rupiah dan kami baru terima SK tunjangan profesi guru senilai Rp 2 juta itu dari 2009, itu yang belum dipotong pajak 5 persen, sehingga sebelum dapat tunjangan, saya tak dapat upah,” ujarnya.

Meski begitu, Dwi tetap bertahan menjadi guru demi mendidik para siswa.

Ungkap Masih Ada Kesenjangan

Ia mengatakan hingga kini masih ada kesenjangan antara guru honorer dan ASN, terutama terkait kesejahteraan dan kepastian status kerja.

Menurutnya, wacana penghapusan guru honorer justru menambah keresahan para tenaga pendidik non-ASN yang sudah lama mengabdi.

Baca juga: Guru Honorer di Sekolah Swasta Solo Masih Terima Insentif Rp250 Ribu, Kapan Akan Naik Rp400 Ribu?

“Kami khawatir, kami berharap bisa regulasi baru untuk guru dan berharap diangkat ASN,” jelasnya.

Di SMPN 1 Sragen sendiri, saat ini masih terdapat delapan guru berstatus honorer yang nasibnya ikut diselimuti ketidakpastian.

 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved