Bekicot Goreng di Karanganyar

Bekicot Goreng di Karanganyar Dijamin Bersih: Daging Direbus 2 Kali, Dibilas 7 Kali Lalui Dibumbui

Wijiyanto mengaku melakukan proses tersebut untuk memastikan higienisnya makanan yang disajikan kepada pembeli.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Mardon Widiyanto | Editor: Rifatun Nadhiroh
TribunSolo.com/Mardon Widiyanto
PENJUAL BEKICOT GORENG - Wijiyanto (44) warga Kampung Kerten RT 4, RW 8 Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan / Kabupaten Karanganyar merebus daging bekicot beberapa kali untuk membuang lendir dan kotoran agar aman dikonsumsi. 

Ringkasan Berita:
  • Wijiyanto (44) menjual bekicot goreng di Alun-alun Karanganyar setiap hari.
  • Proses pengolahan dilakukan dengan direbus dua kali masing-masing 1 jam, dipisahkan kepala dan isi perut, serta dibilas 5–7 kali untuk menjaga higienitas.
  • Ia menekankan kebersihan, hasil olahan juga dikonsumsi keluarga, dan dagangannya selalu habis karena banyak peminat.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR -  Wijiyanto (44), warga Kampung Kerten RT 4/RW 8, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, berjualan bekicot goreng hasil olahannya di Alun-alun Karanganyar setiap hari.

Dalam proses pembuatan daging bekicot menjadi sebuah hidangan, pria yang telah memiliki 2 anak itu mengutamakan kebersihan dan kenyamanan pelanggan dalam menyantap hidangan tersebut.

Saat TribunSolo.com diizinkan oleh Wijiyanto untuk melihat proses pembuatan bekicot goreng, ia mengolah daging bekicot yang masih dalam keadaan beku dengan cara direbus selama 1 jam.

Setelah direbus selama 1 jam, air rebusan dibuang, kemudian dilakukan pemisahan kepala serta isi perut bekicot dari tubuhnya.

Selanjutnya, daging yang telah dipisahkan kepala dan isinya dibilas lalu direbus kembali selama 1 jam agar menjadi lebih empuk.

Baca juga: Dulu Diejek Jualan Bekicot Goreng, Wijiyanto Mampu Hidupi Keluarga dari Omzet Rp500 Ribu per Hari

Setelah selesai direbus kembali, daging tersebut kembali dibilas beberapa kali.

Pembilasan daging bekicot setelah perebusan kedua dilakukan sebanyak minimal 5 hingga 7 kali.

Setelah daging dicuci hingga bersih, barulah diolah menjadi masakan, baik digoreng maupun dimasak rica-rica.

Wijiyanto mengaku melakukan proses tersebut untuk memastikan higienisnya makanan yang disajikan kepada pembeli.

PENJUAL BEKICOT GORENG - Wijiyanto (44) warga Kampung Kerten RT 4, RW 8 Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan / Kabupaten Karanganyar merebus daging bekicot beberapa kali untuk membuang lendir dan kotoran agar aman dikonsumsi.
PENJUAL BEKICOT GORENG - Wijiyanto (44) warga Kampung Kerten RT 4, RW 8 Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan / Kabupaten Karanganyar merebus daging bekicot beberapa kali untuk membuang lendir dan kotoran agar aman dikonsumsi. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

“Karena kebersihan itu saya utamakan,” ucap Wijiyanto, Rabu (3/6/2026).

Wijiyanto mengutamakan higienitas hidangannya agar pembeli tidak kapok untuk membeli.

Selain itu, hidangan tersebut juga menjadi santapan keluarganya di rumah jika tersisa satu atau dua bungkus saja.

“Karena saya dan keluarga juga ikut makan, dan agar pelanggan tidak kapok membelinya,"

"Jika ada sisa satu atau dua bungkus, kami makan sendiri. Namun jika sisa masih banyak, saya masak lagi dengan yang baru. Alhamdulillah selalu habis, bahkan banyak yang mencari,” kata dia.

Baca juga: 5 Rekomendasi Candi di Karanganyar Jateng untuk Wisata Sejarah Akhir Pekan

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved