Gunung Merbabu

Primata Langka Khas Merbabu Boyolali Lolos dari Kepunahan, Masih Ada 37 Ekor Pasca Kebakaran Hebat

Primata endemik khas Gunung Merbabu yang dimaksud adalah Surili Jawa (Presbytis fredericae).

Tayang: | Diperbarui:
TribunSolo.com/Istimewa
PRIMATA KHAS. Primata khas penghuni Merbabu, Surili Jawa masih terjaga di gunung Merbabu. Hewan ini menjadi indikator ekosistem di Gunung Merbabu. (istimewa) 

Ringkasan Berita:
  • Kawasan Gunung Merbabu yang sempat dihantam kebakaran hutan hebat beberapa tahun lalu ternyata masih mampu menjadi habitat aman bagi primata endemik Surili Jawa, Rabu (10/6). 
  • Hasil pemantauan Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu pada 2025 mencatat keberadaan 37 ekor surili yang tersebar di sejumlah titik kawasan konservasi tersebut.
  • Temuan itu menggembirakan di tengah kekhawatiran rusaknya habitat satwa liar akibat kebakaran besar yang pernah melanda lereng Merbabu pada 2019 silam.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Kawasan Gunung Merbabu yang sempat dihantam kebakaran hutan hebat beberapa tahun lalu ternyata masih mampu menjadi habitat aman bagi primata endemik Surili Jawa (Presbytis fredericae), Rabu (10/6). 

Hasil pemantauan Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merbabu pada 2025 mencatat keberadaan 37 ekor surili yang tersebar di sejumlah titik habitat penting kawasan konservasi tersebut.

PRIMATA KHAS. Primata khas penghuni Merbabu, Surili Jawa masih terjaga di gunung Merbabu. Hewan ini menjadi indikator ekosistem di Gunung Merbabu. (istimewa)
PRIMATA KHAS. Primata khas penghuni Merbabu, Surili Jawa masih terjaga di gunung Merbabu. Hewan ini menjadi indikator ekosistem di Gunung Merbabu. (istimewa) (TribunSolo.com/Istimewa)

Temuan itu menjadi kabar menggembirakan di tengah kekhawatiran rusaknya habitat satwa liar akibat kebakaran besar yang pernah melanda lereng Merbabu pada 2019 silam.

Dari hasil monitoring di area seluas 96 hektar, petugas Resort Selo menemukan sedikitnya 16 individu Surili Jawa.

Baca juga: Mengenal Sadranan, Tradisi di Lereng Merapi-Merbabu Boyolali, saat Tamu Harus Makan demi Silaturahmi

Populasi tersebut terdiri dari surili dewasa, remaja hingga anakan, yang menandakan proses reproduksi masih berjalan alami.

Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Anggit Haryoso, menyebut keberadaan Surili Jawa menjadi indikator penting bahwa kondisi ekosistem di kawasan konservasi masih terjaga.

"Satwa liar hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap terjaga. Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik," ujar Anggit.

Tak Lepas dari Pemulihan Vegetasi Pakan

Menurutnya, keberhasilan mempertahankan populasi surili tidak lepas dari proses pemulihan vegetasi pakan pascakebakaran hutan.

Salah satu tanaman utama yang kembali tumbuh adalah kemlandingan gunung (Albizia lophanta).

Vegetasi tersebut kini kembali mendominasi kawasan habitat dan menjadi sumber pakan penting bagi Surili Jawa maupun primata lain seperti Lutung Budeng.

Balai TN Gunung Merbabu menilai pulihnya vegetasi menjadi faktor utama yang mendukung keberlangsungan hidup satwa liar di kawasan itu.

Baca juga: Pernah Dihantam Kebakaran Hebat, Gunung Merbabu Masih Jadi Habitat 37 Ekor Surili Jawa

"Menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga memastikan satwa liar tetap memiliki rumah yang aman untuk hidup dan berkembang," tegas Anggit.

Balai TN Gunung Merbabu memastikan pengawasan kawasan konservasi akan terus diperketat guna menjaga populasi primata endemik tetap lestari di habitat alaminya.

Keberadaan Surili Jawa di lereng Merbabu sekaligus menjadi bukti bahwa proses pemulihan alam pascakebakaran masih memberi harapan bagi keberlangsungan ekosistem hutan pegunungan di Jawa Tengah. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved