Kenaikan Harga BBM
Antrean Makin Panjang Pasca Pertamax Naik, Ojol Khawatir Pertalite Jadi Barang Langka
Pengemudi ojol di Sukoharjo mulai khawatir Pertalite menjadi langka setelah harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter.
Penulis: Anang Maruf Bagus Yuniar | Editor: Erlangga Bima Sakti
Ringkasan Berita:
- Pengemudi ojol di Sukoharjo mulai khawatir Pertalite menjadi langka setelah harga Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter.
- Ojol mengaku belum terdampak langsung karena masih memakai Pertalite, namun antrean di SPBU kini lebih panjang akibat diduga banyak pengguna Pertamax beralih ke BBM subsidi.
- Pengemudi takut biaya operasional melonjak jika terpaksa memakai Pertamax, karena pendapatan harian mereka tidak menentu.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax RON 92 mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Sukoharjo.
Meski hingga kini mayoritas pengemudi masih bertahan menggunakan BBM subsidi Pertalite sehingga belum merasakan kenaikan biaya operasional secara langsung, mereka mulai cemas jika suatu saat Pertalite menjadi langka akibat meningkatnya peralihan pengguna dari Pertamax.
Kondisi tersebut dirasakan salah seorang pengemudi Grab di Kabupaten Sukoharjo, Teguh. Pria yang telah delapan tahun bekerja sebagai pengemudi ojol itu mengaku selama ini mengandalkan Pertalite untuk menunjang aktivitas mencari penumpang setiap hari.
“Kalau dampaknya saya belum merasakan, karena saya pengguna Pertalite,” kata Teguh saat ditemui TribunSolo.com, Sabtu (13/6/2026).
Namun, di balik belum adanya kenaikan biaya operasional secara langsung, Teguh mengaku mulai khawatir terhadap kemungkinan terganggunya pasokan Pertalite di SPBU.
Baca juga: Kenaikan Pertamax Bikin Antrean Pertalite Makin Panjang, Ojol Kena Imbas Kirim Orderan Jadi Lama
Menurutnya, apabila Pertalite sulit didapat dan dirinya terpaksa membeli Pertamax dengan harga Rp16.250 per liter, pengeluaran harian akan meningkat cukup besar dan memberatkan kebutuhan rumah tangga.
“Iya takut kalau Pertalite langka. Otomatis terpaksa beli Pertamax dan itu nanti sangat memberatkan,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa hari terakhir, Teguh mulai merasakan antrean kendaraan di SPBU semakin panjang dibandingkan biasanya.
Ia menduga kondisi tersebut dipicu banyak pengguna kendaraan yang sebelumnya memakai Pertamax kini beralih ke Pertalite setelah harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan.
Jika sebelumnya antrean hanya berlangsung beberapa menit, kini waktu tunggu bisa dua kali lebih lama.
“Mungkin dampaknya lebih ke antrean Pertalite. Biasanya antre lebih dari lima menit, sekarang bisa sampai 10 menit. Yang antre bisa 10 sampai 15 kendaraan. Mungkin itu saja yang baru saya rasakan,” jelasnya.
Baca juga: Pasca Pertamax Naik Rp16.250 per Liter, Ojol di Sukoharjo Keluhkan Antrean Pertalite Makin Panjang
Setiap hari, Teguh mengalokasikan sekitar Rp25.000 untuk membeli bahan bakar. Dengan biaya tersebut, ia dapat melayani orderan dari wilayah Juwiring, Kabupaten Klaten hingga Kabupaten Sukoharjo.
Meski demikian, pendapatan yang diperolehnya tidak menentu karena bergantung pada jumlah pesanan yang masuk setiap hari.
“Pendapatan tidak tentu. Kalau sehari beli bensin sekitar Rp25.000,” lanjutnya.
Bagi para pengemudi ojol, keberadaan Pertalite dinilai sangat penting untuk menjaga pengeluaran operasional tetap terjangkau. Karena itu, mereka berharap pasokan BBM subsidi tetap aman agar tidak dipaksa beralih ke BBM non-subsidi yang harganya jauh lebih tinggi. (*)
| Kenaikan Pertamax Bikin Antrean Pertalite Makin Panjang, Ojol Kena Imbas Kirim Orderan Jadi Lama |
|
|---|
| Pasca Pertamax Naik Rp16.250 per Liter, Ojol di Sukoharjo Keluhkan Antrean Pertalite Makin Panjang |
|
|---|
| Dampak Kenaikan Pertamax bagi Pemda di Solo Raya : Ramai-ramai Berhemat, Mobil Dinas Dikandangkan |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik Picu Warga Beralih ke Pertalite, Kuota BBM Bersubsidi di Solo Masih Aman? |
|
|---|
| Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Pemkot Solo Pertimbangkan Kandangkan Mobil Dinas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ojol-antre-di-SPBU.jpg)