Ramadan 2026

Tradisi Malam Selikuran Kembali Digelar Keraton Solo, Peringati Lailatul Qadr

Keraton Solo akan menggelar malam selikuran, ini untuk menyambut Lailatul Qadr. Kini kegiatan ini sedang dibahas.

TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
MALAM SELIKURAN. Suasana rapat Malam Selikuran di Sasana Hadi, Minggu (8/3/2026).Kegiatan adat ini terus dilestarikan Keraton Solo. 
Ringkasan Berita:
  • Keraton Kasunanan Surakarta akan menggelar tradisi Malam Selikuran pada Senin (9/3/2026) untuk memperingati Lailatul Qadr yang diyakini sebagai malam yang lebih mulia dari 1.000 bulan. 
  • Prosesi kirab Tumpeng Sewu akan dimulai dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil menuju Pagelaran Sasana Sumewo, kemudian melintasi Gladag hingga berakhir di Taman Sriwedari.
  • Tumpeng Sewu menjadi simbol malam seribu bulan dan nantinya akan dibagikan kepada masyarakat.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Keraton Kasunanan Surakarta akan mengadakan Malam Selikuran pada Senin (9/3/2026) mendatang.

Upacara adat ini memperingati Lailatul Qadr yang dipercaya lebih mulia dari 1.000 bulan.

Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPHAP Dipokusumo, mengungkapkan tradisi ini terutama dilestarikan sejak era Pakubuwono X.

Hingga kini Kirab Tumpeng Sewu terus diadakan untuk melestarikan adat di keraton.

“Inti kegiatan dari tradisi ini di era Pakubuwono X sampai sekarang dijadikan semacam kolaborasi semua stakeholder, menjadi semacam komodifikasi. Ada nilai ekonomi yang bergerak, tapi juga memberikan keuntungan bagi yang berkepentingan,” jelasnya saat ditemui di Sasana Hadi, Minggu (8/3/2026).

LISTRIK. Suasana Keraton Kasunanan Surakarta pada Senin (2/3/2026). Pemerintah Kota Solo memberhentikan pembayaran listrik di 5 rekening Keraton Solo karena keterbatasan anggaran.
KERATON SOLO. Suasana Keraton Kasunanan Surakarta pada Senin (2/3/2026). Mereka akan mengadakan malam selikuran. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Sebagai bagian dari kerajaan yang mewarisi tradisi Mataram Islam, Keraton Kasunanan Surakarta lekat dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Setiap tanggal 21 Ramadan, kirab diadakan untuk memperingati adanya malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.

“Makna dari ini langsung berkonotasi dengan nilai keagamaan. Malam selikur dimaknai sebagai turunnya Lailatul Qadr,” ungkapnya.

Disimbolkan Tumpeng Sewu

Malam 1.000 bulan ini akan disimbolkan dalam Tumpeng Sewu.

Nantinya tumpeng ini akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

“Simbolis di dalam budaya Jawa hajat dalem itu Tumpeng Sewu, malam seribu bulan. Dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari tersebut,” jelasnya.

Baca juga: Bikin Kelembagaan Pengageng Keraton Solo, Tedjowulan Segera Susun Satuan Kerja untuk Dana Hibah

Baca juga: Polemik Kantor Baru Tedjowulan di Keraton Solo, Didukung LDA dan Hangabehi, Purboyo Menolak

Kirab akan diadakan dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo.

Setelah itu iring-iringan akan menuju Gladag kemudian belok ke barat hingga ke Taman Sriwedari.

“Diawali doa bersama di Bangsal Sewoyono Sitihinggil kemudian ke Pagelaran Sasana Sumewo menuju Gladag, ke kiri ke barat sampai ke Sriwedari yang nanti akan diadakan serah terima dari utusan dalem ke Wali Kota Mas Respati Ardi,” tuturnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved