Banjir di Solo

Fenomena Warga Keluarkan Kasur dan Perabotan di Sukoharjo, Bukan untuk Dijual, tetapi Ini Alasannya

Perabotan rumah itu dikeluarkan bukan hendak dijual, tetapi karena bencana banjir melanda Solo Raya.

TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar
JEMUR KASUR - Pemandangan kasur, pakaian, hingga berbagai perabot rumah tangga yang dijemur tampak menghiasi Kampung Tanjunganom RT IV RW V, Kelurahan Kwarasan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (16/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Banjir melanda Sukoharjo akibat hujan deras, merendam Kampung Tanjunganom hingga 80 cm–1 meter. Warga mulai bersih-bersih dan menjemur perabot setelah air surut Rabu malam.
  • Wilayah ini kerap banjir karena dekat anak sungai, ditambah kiriman air dari Boyolali dan Klaten sehingga debit cepat naik.
  • BMKG menyebut hujan dipicu bibit siklon tropis 92S di barat daya Sumatra yang berdampak pada cuaca ekstrem di Jawa.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Pemandangan kasur, pakaian, hingga berbagai perabot rumah tangga yang dijemur tampak menghiasi Kampung Tanjunganom RT IV RW V, Kelurahan Kwarasan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (16/4/2026).

Perabotan rumah itu dikeluarkan bukan hendak dijual, tetapi karena bencana banjir melanda Solo Raya.

Aktivitas tersebut dilakukan warga usai banjir yang sempat merendam kawasan itu mulai surut.

Seperti diketahui, kampung tersebut menjadi salah satu titik terdampak banjir cukup parah setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Sukoharjo pada Selasa malam hingga Rabu dini hari.

Baca juga: Banjir Sukoharjo 2026 Bangkitkan Ingatan Warga pada 2007, Air Tembus Lebih dari 1 Meter di Kwarasan

Curah hujan tinggi tersebut mengakibatkan sejumlah wilayah di Kecamatan Grogol terendam banjir akibat luapan anak-anak sungai.

Salah seorang warga, Dimas Aryanto, mengatakan Kampung Tanjunganom menjadi lokasi terakhir yang masih tergenang air hingga Rabu malam.

Sementara wilayah lain di Kecamatan Grogol, sebagian besar sudah mulai surut sejak siang hari.

“Kampung sini titik terakhir yang masih banjir pada Rabu malam. Tempat lain siang hari sudah surut,” kata Dimas saat ditemui TribunSolo.com, Kamis (16/4/2026).

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kabupaten Boyolali Kamis 16 April 2026 : Hati-hati Hujan Lokal Area Lereng Gunung

Ia menjelaskan, air mulai berangsur surut pada Rabu malam dan benar-benar hilang sekitar pukul 22.00 WIB.

Setelah itu, warga yang sebelumnya sempat mengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan.

“Surut total itu jam 10 malam, air sudah tidak ada lagi. Warga yang sempat mengungsi langsung bersih-bersih dan dilanjut pagi ini,” jelasnya.

Kegiatan bersih-bersih dilakukan sejak pagi hari, mulai dari membersihkan lumpur yang mengendap di lantai rumah hingga menjemur berbagai barang yang terendam air, seperti kasur, pakaian, dan perabotan lainnya.

Baca juga: Pemprov Jateng Beri Bantuan Masyarakat Solo Raya yang Terdampak Banjir, Dari Makanan hingga Kasur

Dimas menambahkan, banjir yang terjadi kali ini tergolong cukup parah meskipun belum melampaui kejadian banjir besar pada tahun 2007 silam.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved