Ramadhan 2026

Mengenal Tradisi Malam Selikuran yang Bakal Digelar Keraton Solo, Warisan Sultan Agung

Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW juga memulai i’tikaf pada periode ini untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com
MALAM SELIKURAN - Tradisi Malam Selikuran di Keraton Solo yang digelar kelompok Raja Paku Buwono (PB) XIII, Minggu (3/5/2021). Beginilah asal-usul tradisi malam selikuran Keraton Solo. 

Ringkasan Berita:
  • Malam Selikuran di Keraton Solo digelar 9 Maret 2026, memperingati Lailatul Qadr, malam yang diyakini lebih mulia dari 1.000 bulan, dengan Kirab Tumpeng Sewu dibagikan kepada masyarakat.
  • Tradisi ini sudah ada sejak era Pakubuwono X dan memadukan nilai budaya Jawa dengan ajaran Islam, termasuk doa bersama dan lampion simbolik.
  • Di masyarakat, Malam Selikuran dirayakan dengan kenduri, sedekah, dan buka bersama, menekankan kebersamaan, spiritualitas, dan pelestarian warisan budaya.

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tradisi Malam Selikuran di Keraton Solo bakal digelar pada Senin (9/3/2026) besok. 

Upacara adat ini memperingati Lailatul Qadr yang dipercaya lebih mulia dari 1.000 bulan.

Pengageng Parentah PB XIV Purboyo, KGPHAP Dipokusumo, mengungkapkan tradisi ini terutama dilestarikan sejak era Pakubuwono X.

Baca juga: Sejak Era Pakubuwono X, Tradisi Malam Selikuran Terus Dilestarikan Keraton Solo

Hingga kini Kirab Tumpeng Sewu terus diadakan untuk melestarikan adat di keraton.

“Inti kegiatan dari tradisi ini di era Pakubuwono X sampai sekarang dijadikan semacam kolaborasi semua stakeholder, menjadi semacam komodifikasi. Ada nilai ekonomi yang bergerak, tapi juga memberikan keuntungan bagi yang berkepentingan,” jelasnya saat ditemui di Sasana Hadi, Minggu (8/3/2026).

Sebagai bagian dari kerajaan yang mewarisi tradisi Mataram Islam, Keraton Kasunanan Surakarta lekat dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

Simbol Tumpeng Sewu

Setiap tanggal 21 Ramadan, kirab diadakan untuk memperingati adanya malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.

“Makna dari ini langsung berkonotasi dengan nilai keagamaan. Malam selikur dimaknai sebagai turunnya Lailatul Qadr,” ungkapnya.

Malam 1.000 bulan ini akan disimbolkan dalam Tumpeng Sewu.

BANTAH PEMADAMAN LAMPU - Ilustrasi Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo, Selasa (3/3/2026). Penghageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo GKR Panembahan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani membantah adanya pemadaman lampu di sekitar halaman Sasana Sewoko selama dua hari. Ia memastikan lampu mati karena korsleting dan saat ini sudah dibenahi.
SUASANA KERATON - Ilustrasi Keraton Kasunanan Surakarta atau Keraton Solo, Selasa (3/3/2026). (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Nantinya tumpeng ini akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir.

“Simbolis di dalam budaya Jawa hajat dalem itu Tumpeng Sewu, malam seribu bulan. Dibagikan kepada masyarakat yang hadir di Sriwedari tersebut,” jelasnya.

Kirab akan diadakan dari Bangsal Sewoyono Sitihinggil, berlanjut ke Pagelaran Sasana Sumewo.

Setelah itu iring-iringan akan menuju Gladag kemudian belok ke barat hingga ke Taman Sriwedari.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved