Perebutan Tahta Keraton Solo
Sejarah Keraton Kilen Solo : Pembangunannya Diselimuti Unsur Spiritual dan Ramalan Perang Dunia II
Pembangunan Keraton Kilen tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Revitalisasi dan rencana pembukaan Keraton Kilen memicu pro-kontra; bangunan ini simbol strategi budaya-spiritual menjaga kejayaan Mataram Islam.
- Dibangun Pakubuwono X (1932–1933) terkait siklus 200 tahunan, juga dilatarbelakangi wangsit dan antisipasi perang (dibangun bunker).
- Pemerintah ingin buka untuk wisata-edukasi, namun pemerhati dan pihak keraton minta akses dibatasi demi menjaga kesakralan.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Rencana revitalisasi sekaligus pembukaan Keraton Kilen di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta menuai pro dan kontra dari berbagai pihak.
Di balik polemik tersebut, Keraton Kilen sejatinya bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol strategi budaya dan spiritual untuk mempertahankan kejayaan Dinasti Mataram Islam.
Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi yang juga Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GKR Koes Moertiyah Wandansari atau yang akrab disapa Gusti Moeng, mengungkapkan bahwa Keraton Kilen dibangun oleh Sinuhun Pakubuwono X pada rentang tahun 1932–1933.
Baca juga: Rencana Keraton Kilen Solo Dibuka untuk Publik, Pemerhati Budaya: Jasa Kesakralan dengan Batas Akses
“Didirikan oleh Sinuhun Pakubuwono X tahun 1932-1933. Sebagai syarat supaya keraton ini tidak pindah ke tempat lain lagi,” jelas Gusti Moeng.
Sejarah Dibangunnya Keraton Kilen Solo
Pembangunan Keraton Kilen tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, yang tercatat telah berpindah empat kali, yakni dari Kotagede, Pleret, Kartasura, hingga akhirnya menetap di Surakarta.
Selain itu, keberadaan Keraton Kilen juga berkaitan erat dengan kepercayaan mengenai siklus kejayaan Kerajaan Mataram Islam yang diyakini berlangsung setiap 200 tahun.
Untuk mempertahankan kejayaan tersebut, Pakubuwono X membangun keraton baru di sisi barat keraton utama.
“Diramalkan hanya 200 tahun. Biar nggak ganti Sinuhun Pakubuwono X membikin keraton sebelah barat keraton yang sudah ada. Terus dibatasi Ngargopuro dan Ngargopeni,” terangnya.
Baca juga: 18 Ide Usaha Minuman Kekinian di Solo Jateng : Bahan Mudah dan Murah, Potensi Laris Manis!
Keraton Kilen, yang juga dikenal sebagai Keraton Kulon, sempat menjadi tempat tinggal Pakubuwono X selama kurang lebih enam tahun sebelum wafat pada 1939.
“Ini tempat tinggal beliau. Setelah jadi pindah ke sini. Nggak lama karena beliau surud 1939. Ini selesai 1933. Jadi 6 tahun,” ungkapnya.
Jejak Mimpi dan Antisipasi Perang
Sejarah pembangunan Keraton Kilen juga diselimuti unsur spiritual.
Dalam kisah yang berkembang, Pakubuwono X mendapatkan wangsit atau mimpi untuk membangun sebuah keraton kecil sebagai upaya menjaga kelestarian Kasunanan Surakarta yang saat itu telah mendekati usia 200 tahun, sejalan dengan ramalan Raden Ngabehi Ronggowarsito.
Dalam mimpi tersebut pula, Sang Raja melihat adanya ancaman peperangan besar di masa depan.
Hal ini kemudian diwujudkan dengan pembangunan bunker di sekitar kompleks Keraton Kilen sebagai bentuk antisipasi.
| 19 Advokat Raja Solo PB XIV Purbaya Mundur, Komunikasi Langsung dengan Sinuhun Jadi Sorotan |
|
|---|
| BPK Sebut Lumut di Songgo Buwono Wajar, Sampai Saat Ini Belum Ada Laporan Kerusakan |
|
|---|
| Kubu Purboyo Soroti Kajian Akademik Revitalisasi Songgo Buwono Keraton Solo, BPK: Sudah Dilakukan |
|
|---|
| Fakta Mengejutkan di Balik Lumut Songgo Buwono Keraton Solo! Sudah Terlihat saat Kunjungan Fadli Zon |
|
|---|
| BPK Pastikan Revitalisasi Panggung Songgo Buwono Keraton Solo Sudah Melalui Kajian Akademik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Keraton-Kilen-Keraton-Solo.jpg)