PLTSa Putri Cempo Solo
Harusnya Olah 380 Ton Sampah per Hari, Kenapa PSEL Putri Cempo Solo Cuma Mampu 50 Ton?
Salah satu penyebab utamanya terletak pada belum optimalnya proses pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Ringkasan Berita:
- Kinerja PSEL Putri Cempo menurun akibat pengolahan RDF yang belum optimal sebagai bahan bakar utama.
- Dari 380 ton sampah per hari, kini hanya sekitar 50 ton yang bisa diolah, jauh dari kapasitas ideal.
- Kendala teknis pada preparasi feedstock menyebabkan penumpukan sampah di TPA terus terjadi.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kinerja Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Putri Cempo di Solo terus menurun, dan salah satu penyebab utamanya terletak pada belum optimalnya proses pengolahan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF).
Padahal, RDF merupakan bahan bakar utama dalam sistem gasifikasi yang menjadi andalan PSEL.
Tim Ahli PSEL Putri Cempo, Prof. Prabang Setyono, menjelaskan bahwa kendala teknis dalam menyiapkan RDF membuat pasokan bahan bakar untuk pembangkit tidak berjalan maksimal.
Akibatnya, kemampuan pengolahan sampah ikut terdampak.
“Secara teknis operasional, kendalanya ada di preparasi feedstock. Sampah yang datang harus diolah menjadi RDF dengan kadar air 20 persen, namun hal itu belum bisa berjalan optimal,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Performa PSEL Terus Menurun
Ia menyebut, secara teori kapasitas PSEL mampu menyerap seluruh sampah harian Kota Solo yang mencapai 380 ton.
Namun dalam praktiknya, performa justru terus menurun.
“Karena kurang optimalnya infrastruktur yang ada. Secara teoritis, dengan gasifikasi, seharusnya 380 ton itu bisa terserap semua dalam bentuk energi. Namun, tingkat optimalisasi terus menurun. Dulu sempat 150 ton (uji coba), turun menjadi 100 ton per hari, dan sekarang hanya 50 ton per hari,” jelasnya.
Baca juga: TPA Putri Cempo Solo Cuma Bisa Tampung Sampah Hingga 1,4 Tahun Lagi, Warga Diminta Pilah Sampah
Padahal, kapasitas maksimal PSEL disebut bisa mencapai hingga 550 ton sampah per hari dengan potensi produksi listrik hingga 8 megawatt.
Namun, karena RDF sebagai bahan bakar belum terpenuhi secara optimal, kinerja sistem pun tidak berjalan sesuai harapan.
Berujung Penumpukan Sampah
Kondisi ini berdampak langsung pada penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo.
Seluruh sampah harian tetap harus dibuang ke TPA karena tidak seluruhnya bisa diolah.
Baca juga: Di Balik Menumpuknya Sampah Kota Solo di TPA : Kinerja PSEL Anjlok, Hanya Bisa Olah 50 Ton per Hari
“Artinya kapasitas 550 ton untuk mengolah 380 ton seharusnya masih sangat memadai. Namun karena realisasi tidak sesuai harapan, wajar terjadi penumpukan. Akhirnya, 380 ton sampah per hari tetap dibuang ke Blok D,” pungkasnya.
| TPA Putri Cempo Solo Cuma Bisa Tampung Sampah Hingga 1,4 Tahun Lagi, Warga Diminta Pilah Sampah |
|
|---|
| Di Balik Menumpuknya Sampah Kota Solo di TPA : Kinerja PSEL Anjlok, Hanya Bisa Olah 50 Ton per Hari |
|
|---|
| Jika Masih Terapkan Open Dumping, Umur TPA Putri Cempo Solo Diprediksi Tak Lebih dari 1,4 Tahun |
|
|---|
| Sampah di Solo Capai 380 Ton per Hari, Ahli Dorong Pembuatan Bahan Bakar PSEL di Hulu |
|
|---|
| TPA Putri Cempo Solo Terancam, Open Dumping Diperkirakan Tersisa 1,4 Tahun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/TPA-PUTRI-CEMPO-Tempat-Pembuangan-Akhir-TPA-Putri-Cempo-Solo-Rabu-842026.jpg)