Cuaca Solo Hari Ini

Panasnya Cuaca Solo Raya di Siang Hari, BMKG: Pengaruh El Nino dan Kemarau Lebih Awal

Pemerintah daerah meminta masyarakat, khususnya petani, untuk tidak panik karena prediksi cuaca masih bisa berubah.

Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
TribunSolo.com/Hanang Yuwono
ILUSTRASI CUACA DI SOLO- Cuaca cerah berawan di kawasan SPBU Manahan, Jalan Adi Sucipto, Kerten, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu. 

Ringkasan Berita:
  • Cuaca panas di Solo Raya dipicu kombinasi faktor: El Nino, kemarau lebih awal, dan gerak semu matahari yang meningkatkan intensitas panas.
  • Minim awan, pancaroba, serta angin muson Australia membuat udara lebih kering dan suhu makin terik, diperparah pemanasan global.
  • Petani diminta hemat air dan adaptif, masyarakat diimbau jaga kesehatan karena panas diprediksi masih berlanjut.

 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR – Cuaca panas terik yang belakangan dirasakan masyarakat di Solo Raya ternyata bukan tanpa sebab.

Kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor alam, mulai dari fenomena global hingga peralihan musim yang sedang terjadi di Indonesia.

Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, suhu panas yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan.

Pengaruh El Nino dan Kemarau Lebih Awal

Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah potensi fenomena El Nino yang dapat memicu perubahan pola cuaca.

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan biasanya.

Kondisi ini mulai terasa di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Karanganyar.

Meski demikian, pemerintah daerah meminta masyarakat, khususnya petani, untuk tidak panik karena prediksi cuaca masih bisa berubah.

Plt Kepala Dinas Pertanian Karanganyar, Feriana Dwi Kurniawati, menegaskan bahwa dinamika iklim masih sangat fluktuatif.

“Prediksi bisa berubah, tergantung kondisi iklim dan cuaca,” ujarnya.

Gerak Semu Matahari Bikin Suhu Meningkat

Selain El Nino, faktor utama lain adalah fenomena gerak semu matahari.

Pada periode Maret hingga April, posisi matahari berada di sekitar garis ekuator, bahkan tepat di atas wilayah Indonesia.

Akibatnya, sinar matahari jatuh hampir tegak lurus ke permukaan bumi, sehingga intensitas panas yang diterima menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan waktu lainnya.

Cuaca panas juga diperparah oleh kondisi langit yang cenderung cerah dengan sedikit tutupan awan.

Tanpa awan sebagai penghalang, radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved