Museum Keris Brojobuwono
Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono di Karanganyar: Simpan Lebih dari 700 Keris, Masuknya Gratis!
Lebih dari 700 koleksi keris dan senjata tradisional tersimpan di museum ini, termasuk Mandau, Kujang, dan Tombak.
Penulis: Mardon Widiyanto | Editor: Rifatun Nadhiroh
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Kabupaten Karanganyar memiliki beragam objek wisata, mulai dari wisata alam hingga wisata buatan. Tak heran jika daerah ini dijuluki Bumi Intan Pari.
Salah satu destinasi menarik di Karanganyar adalah Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono, tempat wisata edukasi dan budaya yang berfokus pada pelestarian warisan tradisional keris.
Lokasi museum ini berada cukup jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Karanganyar, tepatnya di RT 001 RW 003, Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo.
Tempat ini menyimpan ratusan koleksi keris dan berbagai senjata tradisional lainnya.
Baca juga: Sejarah Padepokan Brojobuwono di Karanganyar, Didirikan Tahun 1999 oleh Empu dan Dosen ISI Surakarta
Padepokan dan museum tersebut dibangun oleh Basuki Teguh Yuwono, seorang seniman sekaligus dosen mata kuliah Senjata Tradisional Keris di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.
Menurut Staf Museum Keris Brojobuwono, Dika Ekwan Widayat, museum ini didirikan oleh Basuki Teguh Yuwono yang dulunya merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo kini ISI Solo.
Saat ini, Basuki juga menjadi dosen di ISI Solo dan menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Padepokan Brojobuwono didirikan tahun 1993, dan museum secara resmi didirikan pada tahun 2012, oleh warga asli Desa Wonosari, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar yang mencintai seni keris," kata Dika.
Dika menjelaskan bahwa pembangunan Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono dilakukan secara sederhana. Tujuan utama pendirian tempat ini adalah memberikan edukasi budaya kepada masyarakat tentang keris sebagai warisan leluhur.
"Tujuan pendiri mendirikan padepokan dan museum keris ini adalah sebagai sarana edukasi tentang keris dan senjata tradisional, serta meluruskan mitos negatif seputar keris ke masyarakat," kata Dika.
Lebih dari 700 koleksi keris dan senjata tradisional tersimpan di museum ini, termasuk Mandau, Kujang, dan Tombak.
Baca juga: Proses Penempaan Keris Ala Padepokan Brojobuwono: Diawali Wiwitan, Diakhiri Kirab Keliling Kampung
Selain koleksi yang dipamerkan, pengunjung juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan keris oleh para empu, sebutan bagi pengrajin keris di Indonesia.
"Kami masih produktif dalam pembuatan keris dan pengunjung dapat melihat langsung proses penempaan," kata dia.
Padepokan dan Museum Keris Brojobuwono buka setiap Selasa hingga Minggu, pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB.
Menariknya, tempat ini tidak memungut biaya masuk alias gratis.
"Kita buka setiap hari kecuali Senin, dan masuk ke sini free ticketing alias gratis, namun apabila ingin melihat membuat keris, kami sarankan untuk reservasi dahulu," kata dia.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Museum-Keris-Brojobuwono-1.jpg)