Klaten Bersinar
Selamat Datang diĀ KlatenĀ Bersinar

Ketua PSHT dan PSHW Wonogiri Tanggapi Rencana Perobohan Tugu yang Dianggap Bisa Jadi Alat Provokasi

Rencana penghancuran 108 tugu berlogo PSH Teratai (PSHT) dan PSH Winongo (PSHW) disikapi beragam sikap dari masing-masing kelompok.

Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
TRIBUNSOLO.COM/AGIL TRI
Suasana saat rakor dengan Forkopimda Wonogiri dan PSHW dan PSHT di Mapolres Wonogiri, Jumat (31/5/2019). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Rencana penghancuran 108 tugu berlogo PSH Teratai (PSHT) dan PSH Winongo (PSHW) disikapi beragam sikap dari masing-masing kelompok.

Para anggota masing-masing kelompok, banyak yang kurang setuju soal perobohan tugu dengan alasan seperti identitas dan culture.

Ada pula, yang meminta penghancuran diundur waktunya, mengingat waktu tiga hari terlalu cepat karena belum menyosialisasikan ke anggota yang lain.

Hal yang berbeda dikatakan ketua kelompok baik dari PSHT maupun PSHW, yang sudah siap melaksanakan rekomendasi dari Forkopimda.

Ketua PSHT Wonogiri Paloh 17, Sugiarto mengatakan, sebelumnya para pimpinan kedua kelompok pencak silat telah melakukan musyawarah dengan Forkopimda mengenai perobohan tugu itu.

Dia menerima perobohan tugu tersebut, karena dianggap perobohan tugu sudah melalui analisa permasalahan yang panjang.

108 Tugu PSH Teratai dan PSH Winongo di Wonogiri akan Dirobohkan dalam Tiga Hari ke Depan

"Perobohan tugu itu tidak serta-merta dirobohkan, tapi sudah melalui proses yang panjang dengan analisa permasalahan yang terjadi sebelumnya," katanya saat rakor dengan Forkopimda Wonogiri dan PSHW dan PSHT di Mapolres Wonogiri, Jumat (31/5/2019).

Dia menambahkan, sehubungan dengan lambang pada tugu itu, sebenarnya bagus, karena mempunyai nilai-nilai filosofis untuk kebaikan.

"Namun yang terpenting itu ajarannya, bukan tugunya, jika menjadi pemicu terjadinya provokasi, kami tidak keberatan dirobohkan," jelasnya.

Dia mengimbau untuk tugu yang sudah roboh agar tidak dibangun lagi dan yang masih berdiri akan dirobohkan.

Hal senada diungkapkan Ketua PSHW Wonogiri, Winarno, yang mengatakan tugu tersebut bisa menjadi alat provokasi.

"Tugu itu bisa jadi alat untuk provokasi, semisal orang PSHT foto di depan tugu PSHW, hal itu bisa jadi pemicu konflik, begitu juga sebaliknya."

"Kalau berat hati, ya berat, tapi kami sudah tidak bicara lagi dengan urusan organisasi, tapi ini demi seluruh masyarakat Wonogiri," terangnya.

Polisi Tangkap 25 Tersangka Kerusuhan PSHT Vs Winogo di Wonogiri

Dandim 0728/Wonogiri, Letkol Inf M Heri Amrulloh menambahkan, selain masalah perizinan, perobohan tugu ini juga merupakan satu upaya untuk menghindari konflik antar perguruan silat itu.

"Yang jadi masalah bukan di pimpinan atau ketuanya, tapi para anggotanya, mereka masih memiliki dendam karena tugu mereka dihancurkan oleh kelompok yang lain."

"Oleh karena itu, dengan dihancurkan tugu-tugu oleh kelompok masing-masing, merupakan upaya untuk menciptakan kondusivitas wilayah," terangnya.

Untuk lebih menyamakan persepsi di internal masing-masing perguruan silat, Pemkab Wonogiri akan mengadakan forum diskusi sekaligus silahturahmi dan buka bersama pada  Minggu (2/6/2019) mendatang. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved