Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Aksi Solidaritas Ojol

Geger Dahi Ojol Tampak Berlubang Keluar Darah saat Demo Solo, Kapolresta Bantah Pakai Peluru Karet

Pada momen kericuhan yang terjadi di Kota Solo usai aksi solidaritas, muncul kabar seorang pemuda menjadi korban penembakan peluru karet.

|
Tribun Solo / Istimewa
DIDUGA KENA TEMBAKAN. Pemuda disebut driver ojek online (ojol) disebut luka di dahi diduga karena imbas peluru karet saat demo di Solo, Jumat (29/8/2025). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pada momen kericuhan yang terjadi di Kota Solo usai aksi solidaritas, muncul kabar seorang pemuda menjadi korban penembakan peluru karet, Jumat (29/8/2025).

Kabar tersebut ramai di media sosial, dan dari video yang diperoleh TribunSolo.com. Pemuda tersebut mengalami luka di bagian dahi dan nampak darah bercucuran karena luka tersebut.

Baca juga: Kronologi Sopir Ambulans Dihajar Polisi saat Evakuasi Pendemo di Solo, Padahal Sudah Teriak Medis

Dinarasikan bahwa pemuda yang merupakan pengemudi ojek online (ojol) tersebut menjadi korban pada saat di depan kawasan KFC Manahan Solo.

Pada foto yang beredar pria tersebut tampak lemas dan di bagian dahi ada luka diduga seperti lubang.

Dari rekaman video yang beredar juga terdengar diduga dahi pria tersebut seperti berlubang.

Menanggapi isu penggunaan peluru karet, Kapolresta Solo Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo menegaskan bahwa pihaknya membantah.

"Kami tegaskan tidak benar adanya petugas menggunakan senjata peluru karet atau peluru tajam dalam pengamanan peserta aksi unjuk rasa," ungkap Catur, Sabtu (30/8/2025).

Lebih lanjut, Catur menerangkan bahwa pada saat pengamanan unjuk rasa kemarin pihaknya telah melakukan sesuai standar operasional prosedur (SOP). 

BANTAH PAKAI PELURU KARET. Kapolresta Solo Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo saat ditemui Tribun Solo saat aksi demo, Jumat (29/8/2025). Ia membantah pihaknya pakai peluru karet.
BANTAH PAKAI PELURU KARET. Kapolresta Solo Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo saat ditemui Tribun Solo saat aksi demo, Jumat (29/8/2025). Ia membantah pihaknya pakai peluru karet. (Tribun Solo / Andreas Christ)

Sebagai informasi, peluru karet adalah salah satu jenis amunisi non-mematikan (less-lethal weapon) yang biasa digunakan aparat kepolisian untuk mengendalikan massa dalam situasi kerusuhan atau demonstrasi.

Peluru karet ini terbuat dari karet padat atau campuran logam yang dilapisi karet. Ukurannya bisa bervariasi, ada yang berbentuk seperti peluru senjata api standar, ada pula yang berbentuk bola karet (rubber ball).

Di Indonesia, peluru karet termasuk dalam peralatan standar Brimob dan Dalmas Polri ketika menangani aksi unjuk rasa. Namun, penggunaannya kerap menuai kritik jika tidak sesuai prosedur karena berisiko membahayakan nyawa.

Sementara itu, terkait adanya relawan medis yang menjadi korban pemukulan diduga oknum petugas kepolisian. Catur menegaskan telah menerima laporan tersebut dan berjanji akan langsung memproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Adanya kejadian petugas medis yang terluka, Propam sudah menerima laporan dan akan memproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” pungkasnya.

Ia pun meminta masyarakat Solo untuk bisa saling mendukung dan saling menjaga kondusifitas.

Baca juga: Ratusan Fasilitas Umum Jalan Raya Rusak Usai Kericuhan Demo di Solo, Rambu Jalan hingga CCTV Rusak

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved