Kisah Makam Keramat di Solo

Makam Astana Oetara Solo Pernah Jadi Pengungsian Warga Pada Perang Kemerdekaan

Saat itu puluhan mortir Belanda dijatuhkan ke lokasi pengungsian itu.

Tayang:
Penulis: Labibzamani | Editor: Daryono
TRIBUNSOLO.COM/LABIB ZAMANI
Makam Astana Oetara, Kamis (14/4/2016). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Labib Zamani

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Makam Astana Oetara Kampung Nayu, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta Jawa Tengah menyimpan banyak kisah.

Konon sebelum dijadikan sebagai makam Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VI, Astana Oetara adalah tempat pengungsian warga.

Sekitar tahun 1948-1949 terjadi perang kemerdekaan.

Saat itu puluhan mortir Belanda dijatuhkan ke lokasi pengungsian itu.

Anehnya, mortir-mortir Belanda yang dijatuhkan tersebut tidak ada satupun yang meledak.

"Banyak warga menganggap sebagai gusti wali (pelindung) di lokasi itu," kata juru kunci makam Astana Oetara, RM Haryanto ketika ditemui TribunSolo.com, di Kampung Nayu, Nusukan, Banjarsari, Jawa Tengah, Kamis (14/4/2016).

Kemudian, kata Haryanto, tahun 1928 baru dibangunlah makam Raja Mangkunegara.

Makam seluas satu hektare itu merupakan tempat peristirahatan terakhir Raja Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegoro VI beserta keluarga dan abdi dalemnya.

"Sebelum makam lokasi ini adalah bukit," kata Haryanto.(*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved