Beginilah Sejarah Singkat Berdirinya Museum Radya Pustaka
Radya Pustaka memiliki makna sebagai perpustakaan keraton atau perpustakaan negara.
Penulis: Eka Fitriani | Editor: Hanang Yuwono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Eka Fitriani
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Museum Radya Pustaka yang terletak di Solo merupakan museum tertua di Indonesia.
Museum ini berada di Jl Brigjen Slamet Riyadi, Sriwedari, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah.
Museum Radya Pustaka didirikan oleh KRA Sosrodiningrat IV tanggal 28 Oktober 1890, saat masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono IX.
KRA Sosrodiningrat IV kala itu menjabat sebagai pepatih dalem keraton Surakarta.
Radya Pustaka berasal dari kata "Radya" yang berarti keraton atau negara, sedangkan "Pustaka" berarti perpustakaan.
Radya Pustaka memiliki makna sebagai perpustakaan keraton atau perpustakaan negara.

Canthik Rajamala, salah satu koleksi Museum Radya Pustaka, Solo, Sabtu (16/4/2016).
Gedung museum merupakan bangunan lama dengan gaya arsitektur Belanda.
Dahulu, bangunan ini dikenal sebagai Loji Kadipolo.
Bangunan ini awalnya milik Johannes Busselaar lalu dibeli oleh Sri Susuhunan Pakubuwono X.
Sampai akhirnya diserahkan kepada Paheman Radya Pustaka bulan Januari 1913 untuk dijadikan museum.
Luas bangunan ini seluruhnya adalah 523,24 m2.
Terdiri dari ruang pameran tetap 389,48 m2, ruang perpustakaan 33,76 m2 dan ruang perkantoran 100 m2. (*)