Begini Asal-usul Lomba Balap Karung Hingga Bisa Populer Sebagai Lomba 17-an

Alhasil lomba balap karung kemudian populer bahkan hingga ke kampung-kampung.

Penulis: Hanang Yuwono | Editor: Hanang Yuwono
KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES
Presiden Joko Widodo saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta turut serta dalam lomba balap karung di acara Pesta Rakyat Waduk Pluit, di Taman Waduk Pluit, Jakarta Utara, Minggu (17/8/2014). 

1. Karung yang disediakan biasanya berupa karung ebras atau terigu (yang lebih lazim) dengan kapasitas 50 kilogram.

2. Pekarangan harus memenuhi sayarat dengan paling tidak berpanjang 16-20 meter dan lebar 3-4 meter.

3. Untuk lomba balap karung harus menggunakan sebidang tanah dengan garis sebanyak empat atau lima marka.

4. Biasanya peserta lomba balap karung bisa diisi oleh 4 atau 6 orang, namun hal ini tidak mesti berlaku tergantung jumlah peserta dan kebijakan panitia.

Aturan Main:

Lomba balap karung bisa dilakukan dengan sistem estafet ataupun individu.

Lantas, peserta mengikuti instruksi panitia lalu meloncat sekuat tenaga untuk mencapai finish terlebih dahulu dengan memegang sisi karung.

Mengapa lomba ini cukup populer?

Tak lain karena lomba balap karung menawarkan keseruan atau kelucuan dari peserta lombanya.

Begitupun lomba balap karung banyak dipercaya bisa menumbuhkan nilai sportivitas, kerja sama, kekeluargaan, dan kebersamaan.

Di mana nilai-nilai tersebut juga memiliki hubungan kuat dengan nilai kemerdekaan bangsa Indonesia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved