Mengapa dalam Bahasa Jawa 25 Disebut Selawe, 50 = Seket, dan 60 = Sewidak? Ternyata Ini Filosofinya
Ternyata hal-hal aneh di atas ada filosofi dan penjelasannya yang diyakini banyak masyarakat Jawa.
Penulis: Hanang Yuwono | Editor: Hanang Yuwono
Di usia ini pula manusia mulai mendapatkan tempat duduk dalam artian pekerjaannya, kedudukan, atau profesi.
2. 25 disebut selawe
SELAWE bisa diartikan SEneng-senenge LAnang lan WEdok (Puncak asmaranya laki-laki dan perempuan).
Hal ini biasanya ditandai dengan pernikahan.
Mayoritas di usia seperempat abad masyarakat sudah berpikir untuk menikah.
3. 50 disebut seket
SEKET (SEneng KEthonan) artinya senang memakai kethu/tutup kepala topi/kopiah).
Di usia separuh abad, manusia biasa mengenakan penutup kepala untuk menutupi kebotakan atau rambut putih di kepalanya.
Sedangkan kopiah diyakini bermakna sebagai pengingat manusia untuk lebih taat beribadah di usia 50 tahunan.
4. 60 disebut suwidak atau sewidak
Sewidak di sini diyakini memiliki makna SEjatine WIs wayahe Tindak.
Artinya usia yang pantas untuk pergi menghadap Tuhan.
Rentang manusia meninggal umumnya memang usia 60 tahunan.
Maka hal ini bisa jadi pengingat agar manusia tetap mengingat Tuhannya karena sesungguhnya usia itu terbatas, meski maut adalah kehendak yang Maha Kuasa.
Memang belum ada litaratur resmi soal penamaan bilangan pada Bahasa Jawa ini.
Atau apakah memang penamaan bilangan ini merupakan fakta atau sekadar 'cocok-cocokan.'
Namun demikian banyak yang meyakininya, sekaligus menjadikannya sebagai pedoman untuk meniti kehidupan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/selawe_20161227_123654.jpg)