Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Mengapa dalam Bahasa Jawa 25 Disebut Selawe, 50 = Seket, dan 60 = Sewidak? Ternyata Ini Filosofinya

Ternyata hal-hal aneh di atas ada filosofi dan penjelasannya yang diyakini banyak masyarakat Jawa.

Penulis: Hanang Yuwono | Editor: Hanang Yuwono
INTERNET
Ilustrasi 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono

TRIBUNSOLO.COM - Terkadang dalam bahasa Jawa ada penamaan-penamaan aneh yang disebut masyarakat.

Salah satunya adalah pola penamaan bilangan yang berbeda-beda.

Pernahkah sebagai masyarakat Jawa bertanya mengapa jika dua puluh dalam bahasa Jawa disebut rongpuluh.

Namun giliran hitungan dua puluh satu bahasa Jawanya selikur.

Contoh lainnya juga ada di angka dua puluh lima yang malah disebut selawe bukan rongpuluh limo.

Ada lagi bilangan lima puluh yang malah disebut seket bukannya limang puluh.

Kemudian bilangan enam puluh yang justru disebut sewidak atau suwidak.

Padahal angka seterusnya disebut pitung puluh (70), wolung puluh (80), sanga puluh (90).

Ternyata hal-hal aneh di atas ada filosofi dan penjelasannya yang diyakini masyarakat Jawa.

Bahkan hal itu sebenarnya terkait dengan umur manusia di dunia ini.

Berikut penjelasannya yang TribunSolo.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (27/12):

1. 21 disebut selikur dan seterusnya hingga 29 disebut songo likur.

Likur di sini diyakini memiliki makna Lingguh kursi (likur).

Filosofinya di usia 21-29 manusia mulai tekun bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved