Bentuk Gerakan Sedekah Sampah, Kelurahan Mojosongo Garap Sampah Non Organik
Adapun kegiatan daur ulang sampah ini adalah sarana pendukung untuk meningkatkan motivasi agar dapat mengelola sampah secara bijak
Penulis: Labibzamani | Editor: Putradi Pamungkas
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Labib Zamani
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - 260 ribu ton sampah masuk setiap harinya di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Putri Cempo di Kelurahan Mojosongo, Solo.
Sampah-sampah tersebut menjadi masalah utama kesehatan dan lingkungan bagi warga di sekitar TPA Putri Cempo.
Oleh karena itu, Rumah Zakat Solo bersama Kelurahan Mojosongo berkomitmen membentuk Gerakan Sedekah Sampah ataupun Bank sampah di masing-masing RW.
Public Health Officer Rumah Zakat Solo, Anto, menyampaikan, Gerakan Sedekah sampah ini bertujuan jangka panjang menyelamatkan masa depan kesehatan warga di Mojosongo.
Adapun kegiatan daur ulang sampah ini adalah sarana pendukung untuk meningkatkan motivasi agar dapat mengelola sampah secara bijak.
Apalagi bisa menghasilkan secara ekonomis.
"Alhamdulillah saat ini ada 7 RW yang tergabung dalam gerakan ini."
"Kami klasifikasikan sesuai kondisi masing-masing agar memudahkan intervensi," kata Anto kepada TribunSolo.com, Rabu (6/9/2017).
Terpisah, petugas Puskesmas Sibela, Riyani, menyampaikan sampah menjadi sumber penyakit yang harus segera diputus.
Sehingga pihaknya sangat mendukung dengan adanya Gerakan Sedekah sampah.
"Saya sangat mendukung program ini," katanya.
Lebih jauh, Rumah Zakat fokus dalam upaya promotif dan preventif kesehatan salah satunya melalui program sedekah sampah ini.
"Kolaborasi terus kami lakukan, diantaranya dengan Komunitas Kresek, stake holder pemerintah dan swasta," ungkap Anto. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/rumah-zakat_20170906_222442.jpg)