Sipil dan Militer Saling Jatuh Cinta dalam PPSA XXI Lemhannas RI
Sebanyak 81 peserta yang terdiri dari anggota TNI/Polri berpangkat minimal bintang satu, dan para tokoh nasional hidup bersama 5,5 bulan.
Penulis: Junianto Setyadi | Editor: Junianto Setyadi
TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXI - TA 2017 Lemhanas RI ditutup secara resmi oleh Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Pur) Agus Widjojo pada Kamis (23/11/2017).
Sebanyak 81 peserta yang terdiri dari anggota TNI/Polri berpangkat minimal bintang satu, dan para tokoh nasional hidup bersama selama 5,5 bulan untuk mengikuti pendidikan tertinggi kepemimpinan nasional strategis.
Peserta yang berasal dari sipil menyatakan jatuh cinta dan terkesima kepada TNI/Polri yang menjadi teman seperjalanan dalam pendidikan.
Inilah beberapa catatan yang dapat dikutip dari pengalaman hidup bersama sipil dan militer, sebagaimana rilis yang diperoleh TribunSolo.com, Senin (27/11/2017).
Baca: Begini Cara Ajukan PAS-Final Bagi Wajib Pajak

Dari kanan ke kiri, Marsekal Pertama Joko Yochanan (Dirdik Sesko TNI), Lina SE (MATAKIN), Marsekal Muda Donny Ermawan (Waka BAIS), Marsekal Pertama Supramono (Dirjianbang Akademi TNI) dan Marsekal Muda Imran Baidirus (Pangkoopsau I). (DOKUMENTASI TRIBUNSOLO.COM)
Untuk mudah dipahami, demikian tutur Caturida Meiwanto Doktoralina, PPSA adalah pendidikan tertinggi kepemimpinan nasional strategis setingkat bintang dua.
Ini mengingat para peserta TNI / Polri yang bersekolah ada yang berpangkat bintang satu, bintang dua dan juga bintang tiga.
Sehingga ketika para orang sipil bergabung dengan mereka yang berbintang, kesan pertamanya adalah serem dan membuat keder karena mereka adalah para pemimpin puncak di pasukannya.
“Setelah hidup bersama di asrama beberapa waktu, kesan angker hilang dengan sendirinya dan kami larut dalam gaya militer,” ujar Catur Meiwanto, Ketua DPW Asosiasi Dosen dan Guru Indonesia Provinsi Banten.
Baca: Banyak Industri Ritel Berguguran, Transmart Buka Mal Ke-104 di Sukoharjo
"Gaya kami militer tetapi tertawanya tetap sipil alias ngakak."
"Itulah yang membuat kami larut dalam persaudaraan dan saling membantu dalam kesulitan," ujarnya.

Kanan ke kiri, Brigjen Pol Firli (Kapolda NTB), Muhammad Hanafi (Perhapi), Brigjen Pol Jan Leonard de Fretes (Bareksrim Pada OJK) dan Brigjen TNI Herianto Syahputra (Kasdam Jaya). (DOKUMENTASI TRIBUNSOLO.COM)
Sedangkan menurut Reni Mayerni, guru besar dari Universitas Andalas, bergaul dengan TNI/Polri merupakan tantangan tersendiri.
Melalui kacamatanya, rekan-rekan TNI/Polri sangat menguasai persoalan dan situasi, sangat rapi dan terstruktur sehingga kesan pertama adalah ngeri.
“Bagaimana cara bergaul dengan mereka nanti?" katanya.