Ciptakan Alat Pendeteksi Beras Berpemutih, Mahasiswa UNS Solo Raih Penghargaan Internasional
Dalam perhelatan IPITEX 2018 itu, UNS diwakili oleh yakni Intan Mulia Rahayu (Ilmu dan Teknologi Pangan) dan Kevin Ikhwan Muhammad (Teknik Kimia).
Penulis: Imam Saputro | Editor: Hanang Yuwono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo kembali mengukir prestasi di level internasional.
Kali ini dalam Thailand Inventors Day 2018 yang digelar 2-6 Februari 2018 di Bangkok International Trade and Exhibition Center (BITEC), Thailand.
Pada tahun 2018, ajang ini dikenal sebagai Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx 2018).
IPITEx 2018 diselenggarakan oleh National Research Council of Thailand (NRCT) bekerjasama dengan International Federation of Inventor’s Associations (IFIA) dan World Invention Intellectual Properti Association (WIIPA).
Baca: Ini Besaran Santunan yang Diterima 25 Keluarga Korban Tewas di Tanjakan Emen
Dalam perhelatan IPITEX 2018 itu, UNS diwakili oleh yakni Intan Mulia Rahayu (Ilmu dan Teknologi Pangan) dan Kevin Ikhwan Muhammad (Teknik Kimia).
Mereka berhasil meraih medali emas dan special award dari WIIPA dengan menampilkan alat inovasi teknologi bernama SCRAPER (Smart Chlorinated Rice Portable Detector).

"Pembuatan alat SCRAPER dilatarbelakangi oleh maraknya oknum penjual beras curang yang sengaja menambahkan pemutih/khlorin pada beras yang bergrade rendah," kata Intan kepada TribunSolo.com, Senin (12/2/2018)
Menurutnya, oknum menambahkan klorin supaya beras terlihat putih bersih seperti berkualitas super dan lebih disukai konsumen.
Baca: Warga Jebres Tengah Tuntut Wali Kota Solo Mau Berdialog Terkait Keputusan Penggusuran
"Selama ini masyarakat ketika membeli beras susah membedakan beras mana yang mengandung pemutih dan tidak, alat ini nantinya diharapkan bisa membantu membedakan beras berpemutih dan tidak," jelasnya.
Adanya khlorin di beras sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh.
"Khlorin dapat merusak sel-sel darah, mengganggu fungsi hati/liver, dapat merusak sistem pernapasan bila penggunaan klorin mencapai 3-5 ppm dalam beras, bahkan jika dosis lebih dari 30ppm bisa menyebabkan kematian," ungkapnya.
Ia berharap alat inovasi terse dapat bermanfaat untuk masyarakat sebagai upaya pencegahan pengonsumsian beras berpemutih.