Pemkab Karanganyar Disebut Butuh 13 Ribu ASN Tahun Ini

Saat ini, menurut Ketua PGRI Karanganyar, Aris Munandar, untuk tingkat SD saja, kekurangan pengajar mencapapai 1.080 guru.

Penulis: Efrem Limsan Siregar | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM/EFREM SIREGAR
Asisten III Administrasi Setda Kabupaten Karanganyar, Sutarno, berbicara di hadapan anggota PGRI Karanganyar, Sabtu (12/5/2018). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Efrem Siregar

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - PGRI Karanganyar menilai Kabupaten Karanganyar membutuhkan banyak tenaga pengajar.

Saat ini, menurut Ketua PGRI Karanganyar, Aris Munandar, untuk tingkat SD saja, kekurangan pengajar mencapapai 1.080 guru.

Mengantisipasi itu, kata Aris, Pemkab Karanganyar perlu melakukan pengangkatan guru honorer menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Terlebih, ungkap Aris, ratusan guru ASN bakal pensiun pada 2020 mendatang.

Baca: Polresta Solo Jamin Keamanan Gereja, Umat Kristiani Diimbau Tenang

Namun, kendalanya setiap Kabupaten di Indonesia mempunya kuota ASN yang sudah diatur pemerintah pusat.

Isu ini pun dibicarakan para guru dalam Konferensi Kerja PGRI Kabupaten Karanganyar Tahun Ketiga Masa Bakti ke-21, Sabtu (12/5/2018).

Konferensi tersebut turut dihadiri perwakilan Pemkab Karanganyar, Asisten III Administrasi Setda Kabupaten Karanganyar, Sutarno.

Menurut Sutarno, kuota ASN di Pemkab Karanganyar tidak memungkinkan lagi ditambahkan.

Baca: Pemprov Jateng Perkenalkan Market Place Pakde Gayeng di Solo, Apa Itu?

"Penambahan ASN tidak dimungkinkan oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN) karena merujuk pada ketentuan dari Kementerian PAN RB," kata Sutarno.

Namun, Pemkab Karanganyar tidak menutup peluang guru honorer yang ingin menjadi ASN.

Menurutnya, berdasarkan analisa jabatan, Pemkab Karanganyar memerlukan setidaknya 13 ribu ASN, untuk posisi guru, perawat, atau pegawai ASN biasa.

"Sekarang ini Pemkab berada di 9.500," katanya.

Baca: Kutuk Bom di Surabaya, Fadli Zon: Terorisme Biasanya Berkembang di Negara yang Lemah Pemimpinnya

Ia mengingatkan para guru yang ingin mengisi posisi tersebut untuk tidak tergiur dengan iming-iming oknum tertentu.

"Jangan percaya kepada siapapun, iming-iming yang mengatakan bisa menjembatani untuk menjadi ASN karena seleksi menggunakan computerized assessment system," katanya.

Sistem tersebut dianggap membuat seleksi lebih transparan dan terbuka agar diketahui masyarakat. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved