Melihat Sisa Kejayaan Kota Tua Ampenan di Mataram, NTB
Pada masa lampau kota, mulai sekitar tahun 1800an, di pesisir Lombok ini menjadi pusat kegiatan niaga dengan pelabuhannya.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Daryono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, MATARAM - Sejarah sebuah kota bisa dilihat dari bangunan-bangunan tua yang masih berdiri berdampingan dengan bangunan masa kini.
Bangunan yang tersisa sering kali menggambarkan kondisi budaya saat itu.
Seperti di Kota Tua Ampenan, sebuah kecamatan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Pada masa lampau kota, mulai sekitar tahun 1800an, di pesisir Lombok ini menjadi pusat kegiatan niaga dengan pelabuhannya.
Baca: Sembilan Satwa Baru TSTJ Solo Diharapkan Dongkrak Jumlah Wisatawan
Lambat laun, kota pelabuhan ini membentuk beberapa kampung berdasarkan asal penghuninya selain penduduk asli, orang sasak.
Ada Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Bugis, dan Kampung Cina.
Berjalan menyusuri jalan-jalan di Ampenan, masih banyak bangunan dengan berbagai ciri arsitektur.
Rumah-rumah dengan banyak berjendela ciri tinggalan masa Belanda, juga rumah-rumah berlantai dua yang merangkap toko yang mencirikan kampung Tionghoa dan Arab.
Beberapa bangunan fisik yang masih jadi bukti pembauran masyarakat tempo dulu seperti adanya wihara dan masjid.
Satu contoh Wihara Bodhi Dharma yang sudah ada sejak 1804.
Wihara berdampingan dengan Kampung Melayu yang mayoritas beragama Islam.
Juga ada masjid At Taqwa yang sudah jadi saksi peperangan dari masa penjajahan Belanda dan Jepang.
Takmir Masjid At Taqwa, Umar mengatakan sejak ia lahir masjid ini sudah ada sebelum ia lahir.
"Katanya ini dulu iuran dari orang-orang kaya Arab dan jadi masjid ini," kata Umar saat kunjungan untuk Memahami Keberagaman Budaya Kota Tua Ampenan oleh Pemerintah Kota Solo, Senin (14/5/2018).
Baca: Destinasi Wisata Unik 3 Gunung di Lembata Nusa Tenggara Timur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/gerbang-kota-tua-ampenan_20180515_133254.jpg)