Ini Kunci Keharmonisan Warga Multikultur di Kota Tua Ampenan, NTB
Dari sisi pergaulan masing-masing etnis bisa hidup masing-masing tanpa saling mengganggu, demikian dengan budaya dan agama.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Daryono
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Imam Saputro
TRIBUNSOLO.COM, MATARAM - Kota Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat dibentuk oleh beragam budaya yang dibawa oleh beberapa etnis yang hidup berdampingan di kota pelabuhan itu sejak ratusan tahun lalu.
Meski beragam, sejarah mencatat tak ada konflik besar yang pernah terjadi di kota ini.
“Sepanjang yang saya tahu, belum pernah ada konflik besar yang melibatkan antar etnis di sini, kami bisa hidup berdampingan,” kata Budayawan Sasak, Lalu Arjuna saat diskusi dengan delegasi Pemerintah Kota Solo dengan tema Memahami Keberagaman Budaya Kota Tua Ampenan di Mataram, Selasa(15/5/2018).
Lalu mengatakan, Mataram bisa disebut Indonesia kecil karena hampir semua suku pernah dan ada di kota ini.
Baca: Melihat Sisa Kejayaan Kota Tua Ampenan di Mataram, NTB
Dari sisi pergaulan masing-masing etnis bisa hidup masing-masing tanpa saling mengganggu, demikian dengan budaya dan agama.
“Ini juga merupakan kebanggan bagi kami, bisa Bhinneka Tunggal Ika secara nyata dan utuh,” kata dia.
Khusus di Ampenan, kota pelabuhan ini dihuni paing tidak oleh orang Sasak sebagai penduduk asli, Melayu, dan Tionghoa.
Ketiga suku yang berbeda bisa hidup membaur dan menyusun peradaban Ampenan sejak tahun 1800an.
“Kami suku sasak sebagai orang asli sangat bisa menerima mereka, karena sebenarnya dari kami orang sasak juga berasal dari percampuran,” kata dia.
Menurutnya, orang Sasak berfisik Vietnam, berbahasa Jawa dan Bali dan beragama dari Baghdad.
“Kami menerima siapapun untuk bersama-sama hidup di Ampenan ini sejak ratusan tahun lalu,” kata Lalu.
Salah satu bukti harmonisnya Ampenan adalah sudah banyak terjadinya pernikahan antarentis.
“Kuncinya ya komunikasi, semua bisa dibicarakan, ketika ada masalah kami berkomunikasi, semua berjalan di rel masing-masing,” kata dia.
Baca: Tak Hadiri Jumenengan, Adik Kandung Raja Solo Bakal Deklarasikan Istana Mataram Jumat Besok
Pada masa lampau, mulai sekitar tahun 1800an, kota di pesisir Lombok ini menjadi pusat kegiatan niaga dengan pelabuhannya.
Lambat laun, kota pelabuhan ini membentuk beberapa kampung berdasarkan asal penghuninya selain penduduk asli, orang sasak.
Ada Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Bugis, dan Kampung Cina.
Salah satu tetua Kampung Melayu, Haji Kemas Marzuki mengatakan di Ampenan tiga kampung besar, Arab, Tionghoa dan Sasak hidup berdampingan.
"Dari dahulu sampai sekarang kami hidup berdampingan, rukun, saling menghormati," kata pria 64 tahun ini.
"Beberapa dari kami juga sudah "ambil" dari Arab," katanya.
Baca: Pemerintah Dukung Program Istana Mataram Sebagai Upaya Pelestarian Budaya
Ia menjelaskan, makna kata "ambil" adalah menikahi orang sesuai adat Lombok.
Di Ampenan juga tersisa puing-puing dermaga yang dibangun pada masa Belanda yakni sekitar 1948.
Saat ini lokasi tersebut digunakan warga untuk lokasi memancing.
Pelabuhan Ampenan adalah salah satu pelabuhan yang memenuhi syarat bongkar muat pada era 70an.
Pada masa itu di bulan baik ada ratusan kapal yang singgah di Lombok ini.
"Ampenan akan sepi ketika musim barat, cuacanya tidak memungkinkan, terutama ketika bulan 12(Desember), selain itu ramai, " kata Kemas Marzuki.
Alasan itulah, menurutnya, yang menjadikan pemerintah masa kini memindahkan pelabuhan ke Lembar.
"Dulu disini apa-apa ada, macam-macam barang dagangan, penumpang, dan bahkan naik haji dulu berangkat dari pelabuhan Ampenan," ujarnya.
Alasan lain, pemerintah memutuskan pelabuhan pindah ke Lembar di tahun 1973 karena Ampenan mengalami pendangkalan sehingga kurang optimal untuk pelabuhan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ampenan_20180516_124348.jpg)