Pentas Teater Abah SMA PL Santo Yosef Solo, Sulastri Tempo Dulu
Siswa Bahasa dan Budaya Kelas XII SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo unjuk gigi dalam pementasan drama.
Penulis: Facundo Crysnha Pradipha | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Siswa Bahasa dan Budaya Kelas XII SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Solo unjuk gigi dalam pementasan drama.
Pertunjukkan teater yang digelar kemarin Sabtu (3/8/2019) malam oleh kelompok Teater Abah itu mengambil lakon cerita Sulastri.
Sutradara pementasan, Anastasia Benita Rara, mengatakan, pementasan merupakan agenda tahunan sebagai aplikasi dari materi ajar di kelas, yaitu pementasan drama.
"Pentas ini sebagai bukti bahwa peminatan bahasa dan budaya atau istilah lama jurusan bahasa patut diperhitungkan," ujar Anastasia Benita Rara.
• Bupati Nduga Minta TNI/Polri Ditarik dari Wilayahnya karena Masyarakat Tak Tenang, Ini Respons Polri
Pementasan dihadiri oleh guru dan karyawan sekolah, undangan, serta ratusan penonton lainnya yang berasal dari Solo dan sekitarnya.
Bahkan ada juga warga datang dari Yogyakarta.
Dikatakan Anastasia, antusiasme penonton luar biasa.
Dari tempat yang disediakan di aula sekolah terlihat penuh dan sejumlah penonton harus rela berdiri untuk menyaksikan pertunjukan.
• Sosok Enzo Zenz Allie: WNI Keturunan Prancis yang Pernah Nyantri, Kini Lolos Jadi Taruna Akmil
Sulastri Jadi Ledek
Naskah karya Sri Kumaratunggu menceritakan tentang tokoh Sulastri yang menjadi ledek.
Sutradara menerangkan, Ledek Lastri adalah simbol dari pertentangan batin.
Lastri berada dalam persimpangan pemegang penerus kebudayaan atau penjaga keluarga yang berada di lingkungan sosial masyarakat.
"Lastri adalah kaca perempuan desa, yang lemah dalam persimpangan," kata dia.
• Jawaban PDI-P saat Ditanya Apakah SBY Diundang ke Kongres V di Bali
Latar setting pementasan semalam bernuansa tradisional tempo dulu.
Paduan lighting dan setting yang kompak mendukung performa anak-anak.
Seperti yang dikatakan Pembimbing Teater Abah Kelas Bahasa dan Budaya, Tri Haryatmo.
"Pementasan tahunan teater ini menjadi wujud siswa dapat mempraktikkan materi dan aktif berkegiatan," jelasnya.
Lanjutnya, pementasan yang digelar secara rutin ini kiranya menjadi bukti dan semangat tersendiri bagi anak-anak bahasa.
"Karena bahasa, kita bersaudara," pungkas Tri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/sulastri-tempo-dulu.jpg)