Berita Karanganyar Terbaru
Pernah di PHK, Sugiyarto Asal Karanganyar Ini Sukses Beradu Nasib dengan Mainan Tradisional
Totok Sugiyarto (54) merupakan warga Dusun Blora, Desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.
Penulis: Reza Dwi Wijayanti | Editor: Garudea Prabawati
Laporan Tribunsolo.com, Reza Dwi Wijayanti
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR- Totok Sugiyarto (54) merupakan warga Dusun Blora, Desa Karangpandan, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar yang menekuni produksi mainan tradisional sejak 2006.
Dulunya Sugiyarto merupakan seorang kontraktor yang bekerja di tambang minyak namun di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) saat terjadi krisis moneter.
Selang beberapa tahun setelah di PHK Sugiyarto memberanikan diri untuk membuat kerajinan gantungan kunci secara otodidak karena tidak adanya skill membuat kerajinan.
“Saya pertama kali buat gantungan kunci dari tempurung dan bentuknya ikan,” terangnya, Senin (26/8/2019).
Karena pemasaran dan respon yang diterima kurang baik membuat Sugiyarto beralih membuat mainan tradisional.
“Mainan pertama yang saya buat itu otok-otok,” imbuhnya pada Tribunsolo.com.
• Soal Pemindahan Ibu Kota, Presiden Jokowi: Beban Jakarta Terlalu Berat sebagai Pusat Pemerintahan
• Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso Dikukuhkan Jadi Guru Besar UNS
• Enam Kasus Kebakaran Terjadi Dalam Satu Hari di Kabupaten Sukoharjo
Otok-otok adalah mainan tradisional yang populer di era 80an sampai dengan 90an dan jika digoyangkan akan menimbulkan bunyi otok-otok.
Itulah kenapa diberi nama otok-otok.
Sampai saat ini Sugiyarto sudah memiliki tiga jenis otok-otok yakni otok-otok yang digoyang, dipukul, dan diputar.
Dalam pembuatan otok-otok Sugiyarto menggunakan jenis kayu mahoni, surian, dan Sengon.
Selain itu kerajinan yang dibuat oleh Sugiyarto juga sudah sering dipamerkan dalam even-even besar seperti Pekan Raya Jakarta, Jateng Fair, Pekan Kesenian Bali, dan lainnya.
Dalam satu bulan rumah produksi Sugiyarto dapat memiliki omzet berkisar Rp 6 juta sampai Rp 7 juta.
“Tidak pasti tapi kalau ramai bisa sampai Rp 7 juta,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/sugiyarto-saat-memproduksi-kerajinan-mainan-tradisional.jpg)