Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Virus Corona

Ditangani dengan Baik, Mahasiswa Indonesia di Cina Berharap Masyarakat Tak Panik soal Virus Corona

Seorang mahasiswa Indonesia asal Semarang yang kuliah di Central China Normal University di Kota Wuhan mengatakan ada sekitar 93 WNI terjebak di Wuhan

Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
TribunSolo.com/Agil Tri
Suami Hilyatu Millati Rusydiyah (33) warga Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Klaten, Ahmad Syaifudin Zuhri, Selasa (28/1/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Mewabahnya virus Corona yang hampir mirip dengan virus SARS, membuat kota Wuhan, China, diisolir oleh otoritas setempat.

Salah seorang mahasiswa Indonesia asal Semarang yang kuliah di Central China Normal University di Kota Wuhan, Ahmad Syaifudin, mengatakan ada sekitar 93 WNI yang terjebak di kota Wuhan.

Kendati demikian, dia menyarankan bagi masyarakat Indonesia yang memiliki anggota keluarga yang sedang berada di China untuk tidak khawatir.

Kisah Mahasiswi Boyolali Masih Terjebak di Sichuan China, Stok Makanan Menipis, Begini Kata Keluarga

"Otoritas setempat memperlakukan kami dengan baik, tidak hanya kepada warga negara Indonesia saja, tapi juga WNA lainnya."

"Kami selalu dipantau kondisi kesehatan kami."

"Kami juga disuruh melaporkan kondisi kesehatan kita setiap hari, seperti suhu tubuh dan sebagainya," katanya saat ditemui di rumah Mertuanya di Desa Malangan, Kecamatan Tulung, Klaten, Selasa (28/1/2020).

Mahasiswa S3 jurusan Hubungan Internasional (HI) ini mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk China juga telah bekerja dengan baik.

"KBRI kita sudah berkerja dengan baik, dengan membentuk tim khusus terkait pemantauan WNI kita di Kota Wuhan."

"Saat ini KBRI telah mengirimkan bantuan logistik, itu info terbaru yang saya dapat," jelasnya.

Virus Corona Merebak, Kampus di Cina Diliburkan Lebih Panjang, WNI Asal Klaten Pilih Pulang

Dia memastikan belum ada WNI di China yang terserang virus Corona, sehingga pihak keluarga yang ada di Indonesia disarankan untuk tidak perlu panik.

"Jangan panik, dan tetap memberikan dukungan keluarga yang ada disana, karena kami percaya dengan ototritas disana," imbaunya.

Dia dan teman-temannya sangat percaya dengan otoritas setempat, KBRI, dan teknologi kesehatan yang di miliki China.

"Sepertinya belum ada obatnya jika terkena virus itu, sehingga jika terkena masih dikarantina di rumah sakit."

"Tapi dari pernyataan teman-teman saya kuliah di Kedokteran di sana, China memiliki perlengkapan medisnya sangat canggih," terangnya.

Cegah Virus Corona Masuk ke Indonesia, Anggota DPR Minta Pemerintah Cabut Bebas Visa bagi China

Dia pulang ke Indonesia pada 9 Januari 2020 kemarin.

Saat ini dia masih memantau perkembangan di Kota Wuhan dari pemberitaan media massa, chat grup, dan komunikasi dengan istrinya yang masih terjebak di sana.

"Saat ini kita selalu berdoa, selalu mendoakan dan saling mendukung satu dengan yang lain," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved