Virus Corona
Virus Corona Bikin Cemas, Tapi Kelelawar Bacem Masih Laris Manis di Gunungkidul Jogja
Virus Corona Sudah Bikin Cemas, Tapi Masakan Kelelawar Masih Laris Manis di Gunungkidul
TRIBUNSOLO.COM - Kabar soal Virus Corona memang pantas membuat resah masyarakat.
Penyebaran virus dari Wuhan ini memang terhitung cepat.
• Orangtua Mahasiswi Solo di China yang Khawatir Corona Beranikan Curhat ke Presiden Jokowi,Ini Isinya
• Kesaksian Mahasiswa Solo yang Kuliah di Wuhan China : Ternyata Banyak Video soal Wuhan yang Hoax
Virus ini pun disebut sudah membuat ratusan orang meninggal dunia.
Nah, ilmuwan menduga, virus ini dipicu karena kebiasaan masyarakat di Wuhan, China, mengonsumsi kelelawar.
Di Indonesia, kebiasaan makan kelelawar ternyata jamak ditemui di daerah tertentu.
Termasuk di Gunungkidul.
Warga Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, seolah tidak peduli dengan kabar virus corona disebarkan kelelawar.
Puluhan ekor mamalia bersayap ini masih laku dijual untuk dikonsumsi sebagai obat.
Salah satu tempat yang menjual kelelawar untuk dikonsumsi adalah warung di Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.
Warung milik Sukarwanti ini sudah menjual kelelawar bacem selama puluhan tahun.
"Jadi awal berjualan itu nenek buyut saya. Dilanjutkan ibu, dan sekarang saya sendiri," kata Sukarwanti saat ditemui di warungnya, Rabu (29/1/2020).
Kelelawar didapat Sukarwanti dari warga yang menangkapnya di lereng sekitar Pantai Selatan Yogyakarta.
"Tidak tentu setiap harinya, tergantung para pencari codot. Berapapun jumlahnya kami beli. Kadang hanya beberapa ekor, kadang juga banyak," kata Sukarwati.
Sukarwanti menjual satu ekor kelelawar olahannya dengan harga bervariasi. Paling murah Rp 7.000 untuk yang berukuran kecil. Sedangkan yang berukuran besar dihargai Rp 15.000.
Pembeli kelelawar bacem biasanya berasal dari Magelang, Prambanan, Bantul.
Mereka percaya daging hewan nokturnal ini berkhasiat mengobati asma, diabetes, hingga asam urat.

Kabar virus corona disebabkan konsumsi daging kelelawar, disebut Sukarwanti tidak berpengaruh dengan penjualan dagangannya.
Dia pun yakin kelelawar bacemnya aman untuk dikonsumsi.
"Sepengetahuan saya di sana (China) itu tidak dimasak, kalau di sini dimasak sampai matang, jadi aman," ucapnya.
Anjar Ardityo, pelanggan Sukarwati, juga tidak peduli dengan kabar konsumsi daging kelelawar sebagai penyebab timbulnya virus corona.
Selain karena khasiatnya, Anjar juga suka dengan rasa daging kelelawar.
"Rasanya enak mirip burung puyuh, kebetulan pas lewat mampir sekalian, karena kuliner seperti codot bacem ini tidak setiap wilayah ada," kata Anjar.
"Selain di Panggang, dulu pernah makan di Kecamatan Purwosari," sambung Anjar. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Daging Kelelawar Gunungkidul Tetap Diburu Pembeli"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/kelelawar-virus-corona-gunungkidul.jpg)