Gara-gara Wabah Virus Corona Menyebar, Sentimen Anti-China Meningkat

Warga China yang tersebar di negara-negara Barat mengalami sentimen anti-China, anti-Asia atau yang selama ini dikenal dengan istilah sinofobia.

Editor: Reza Dwi Wijayanti
(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)
Petugas keamanan bandara berjaga saat wisatawan asal China baru mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (28/1/2020). Saat ini ada sekitar 40.000 penumpang keberangkatan dan kedatangan internasional yang hilir mudik ke Bandara Soekarno-Hatta. Data terakhir mencatat wabah Corona sudah menjangkiti 4.500 orang dan menewaskan 106 orang di China. 

TRIBUNSOLO.COM -  Warga China yang tersebar di negara-negara Barat mengalami sentimen anti-China, anti-Asia atau yang selama ini dikenal dengan istilah sinofobia.

Di Italia, sebagai salah satu negara di Benua Eropa yang memiliki populasi warga China terbanyak, mengonfirmasi dua kasus terkait sinofobia.

Sepasang warga China yang baru tiba di Milan dari Wuhan pada libur Tahun Baru Imlek bulan lalu mengalami sentimen anti-China.

Di Milan, juga terdapat larangan bagi warga setempat untuk tidak datang ke restoran-restoran dan toko-toko China.

Dele Alli Akhirnya Minta Maaf Terkait Video Lelucon soal Virus Corona

Ini Kata Kemenkes soal Isu 6 WNI dari Singapura Masuk Batam dan Diduga Terjangkit Virus Corona

Direktur Sekolah Musik Santa Cecilia, Roberto Giuliani, sekolah musik tertua di dunia yang berada di Roma, dikritik oleh koleganya setelah aksinya yang berkaitan dengan sinofobia. 

Giuliani memberitahu muridnya yang berasal dari China, Jepang dan Korea Selatan untuk tidak masuk kelasnya sebelum memastikan mereka aman dari virus corona.

Media La Repubblica di Italia juga memublikasikan foto yang menunjukkan sebuah kafe di Roma memasang spanduk bertuliskan, "Semua orang yang datang dari China dilarang masuk."

Padahal, lebih dari 300.000 orang China tinggal di Italia dan sebanyak lima juta orang mengunjungi negara ini pada tahun 2018.

Dilansir dari The Guardian, Marco Wong, penasihat lokal di Kota Prato, sebuah rumah bagi populasi orang China memaparkan bahwa orangtua tidak mengirimkan anak-anak mereka ke sekolah apabila terdapat murid lain yang berasal dari China.

Orang-orang juga menulis di internet tentang larangan pergi ke toko dan restoran China disamping berita hoaks yang menyebar seperti seorang warga Italia yang tinggal di Wuhan mengetahui rahasia laboratorium yang menciptakan virus corona.

Anti-China juga dirasakan oleh Emily Jane O'Dell, seorang kolega profesor yang mengajar di Universitas Sichuan-Institut Pittsburgh, Republik Rakyat China, meski dia bukan orang Asia.

Emily Jane O'Dell melaporkan dalam counterpunch.org, sentimen anti-China dalam beberapa candaan rasis seperti dirty Asians dan sup kelelawar.

Menurut O'Dell, video tentang sup kelelawar yang sempat viral di media sosial itu diambil di Micronesia, bukan China.

Teman O'dell yang berasal dari AS juga pernah mengatakan bahwa akan melemparkan semua orang China ke kamp pengasingan seperti yang telah mereka lakukan kepada orang Jepang.

Anti-China ini kemudian diketahui tidak hanya berada di AS tapi juga menyebar layaknya corona di Eropa, Korea Selatan, dan Filipina. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved