Pilkada Solo 2020

Bertemu Gibran di Solo, Risma Ingat Pesan Ketum PDIP Megawati Soal Regenerasi, Sinyal Rekomendasi?

Tri Rismaharini teringat pesan yang disampaikan Ketum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri.

TribunSolo.com/Adi Surya
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini bertemu dengan Bakal Calon Wali Kota Gibran Rakabuming Raka di Rumah Makan Pecel Solo, Kelurahan Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Solo, Rabu (4/3/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tri Rismaharini teringat pesan yang disampaikan Ketum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri.

Pesan itu diingatnya seusai bertemu dengan Bakal Calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka.

"Ibu Ketua Umum pernah menyampaikan kita harus menurunkan yang muda-muda," terang Risma, Rabu (4/3/2020).

Risma yang merupakan Ketua DPP Bidang Kebudayaan PDIP itu menjelaskan itu menjadi hal yang penting sebelum kader-kader banteng lama turun panggung.

Saat Wali Kota Surabaya Risma Ungkap Tak Sempat Jelaskan Konsep Ruang Terbuka Hijau pada Gibran

"Biar nanti kalau kita turun, yang muda ini tidak katrok atau tidak ketinggalan," jelas dia.

"Memang kan kita banyak pengurus DPP yang sudah tua-tua," imbuhnya membeberkan.

Risma meyakini kader-kader muda PDIP bisa tumbuh dan berkembanh seiring berjalannya waktu.

Mereka diyakini akan memberikan 'warna baru' dalam percaturan politik Indonesia ke depannya.

Risma Menampik Pertemuannya dengan Gibran Berkaitan dengan Urusan Rekomendasi Pilkada Solo 2020

"Kalau anak muda ini tumbuh kan kemudian bisa tertarik di partai, kemudian jadi kader di dunia politik bukan hanya di legislatif, tapi juga di eksekutif kan bisa membawa wajah baru," ujar Risma.

Kader-kader muda dibutuhkan untuk menjawab perkembangan isu yang terjadi dalam masyarakat dan sebagai saran pembelajaran bagi kader-kader lama.

Begini Isi Pertemuan Gibran Putra Jokowi dengan Wali Kota Risma di Sudut Rumah Makan Pecel Solo

Dengan begitu menurut dia, pergerakannya bisa menjadi lebih cepat dan meyesuaikan perkembangan zaman.

"Saya bisa menangkap anak muda, kemudian saya belajar dari anak-anak muda untuk komunikasi, etok-etoke rodok enom (pura-puranya sedikit muda), kemudian bisa menangkap isu-isu yang berkembang itu apa," kata Risma.

"Kalau tidak megikuti itu sulit, karena dunia itu berubah sebegitu cepatnya, tidak bisa dibayangkan kan start up, toko tapi tidak punya toko, orang punya industri tapi tidak punya pabrik," pungkasnya. (*)

Penulis: Adi Surya Samodra
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved