Sengketa Tanah Sriwedari

Dibangun di Lahan Sengketa, Masjid Rp 165 Miliar di Sriwedari Terancam Dirobohkan, Panitia Pasrah

Dibangun di Lahan Sengketa, Proyek Masjid Megah di Sriwedari Terancam Dirobohkan, Panitia Pasrah

Penulis: Adi Surya Samodra | Editor: Aji Bramastra
TRIBUNSOLO.COM/ADI SURYA SAMODRA
Proyek Masjid Taman Sriwedari yang menelan dana Rp 165 miliar terancam dirobohkan karena dibangun di lahan sengketa. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Rencana eksekusi paksa lahan Sriwedari kembali mencuat beberapa waktu belakangan ini.

Pasalnya, pengacara Ahli Waris Tanah Sriwedari Anwar Rachman mengklaim pihak pihak ahli waris almarhum RMT Wirjodiningrat memiliki bukti sah kepemilikan lahan Sriwedari.

Kronologi Lengkap Sengketa Tanah Sriwedari Versi Penggugat Pemkot Solo

Pengadilan Negeri Solo Benarkan Ada Permohonan Eksekusi Paksa Tanah Sriwedari, Berikut Penjelasannya

Tak hanya itu, Pengadilan Negeri (PN) Solo menerbitkan Penetapan Eksekusi Pengosongan tertanggal 21 Februari 2020.

Rencana eksekusi paksa lahan tersebut akan berimbas pada pembangunan Masjid Taman Sriwedari Solo yang sampai saat ini masih terus dikebut pengerjaannya.

Anwar mengklaim pembangunan masjid tersebut tidak bisa menghalangi eksekusi lahan Sriwedari.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Taman Sriwedari Achmad Purnomo angkat bicara terkait polemik eksekusi paksa lahan Sriwedari.

"Dalam hal ini, saya diamanati diberi tugas oleh Wali Kota sebagai ketua pembangunan," terang Purnomo saat ditemui TribunSolo.com, Kamis (5/3/2020).

Purnomo mengaku telah memeriksa segala keabsahan lahan sebelum mendirikan Masjid taman Sriwedari Solo.

"Saya sebagai Ketua Pembangunan Masjid mestinya dulu mengecek sendiri, itu lahan kabarnya jadi sengketa, ternyata tidak," aku dia.

"Sertifikat atas nama Pemerintah Kota Solo, resmi kita membentuk panitia, saya hanya membangun," imbuhnya membeberkan.

Purnomo akan menyerahkan persoalan hukum yang membelit lahan Sriwedari kepada pihak yang berwenang menanganinya.

"Kalau masalah hukum biar bagian hukum Pemerintah Kota Solo yang mengurusinya, saya tidak terlibat sama sekali di segi hukumnya," tutur dia.

"Saya hanya sebagai ketua pembangunan masjid, kalu ternyata tanahnya ada masalah hukum, ya silahkan saja bagian hukum Pemerintag Kota Solo yang menghadapi," tambahnya.

Purnomo mengaku pasrah apabila kelak pembangunan Masjid Taman Sriwedari harus berhenti.

Adapun, pembangunan tersebut menelan total kebutuhan anggaran sebesar Rp 165 miliar.

"Ya sudah terserah, mau bagaimana lagi itu kan uang dari donasi semuanya," aku dia.

"Eksekui disuruh berhenti, ya, berhenti santai saja," pungkasnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved