Solo KLB Corona
Dihantam Pandemi Corona, SPN Solo Usul Pemerintah Beri Bantuan Insentif untuk Buruh
"Semacam bantuan atau insentif atau stimulus untuk mengcover kehiduapan kami, tidak harus menutup 100 persen, tapi ada stimulus untuk meng-cover"
Penulis: Adi Surya Samodra | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Adi Surya Samodra
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Solo mengusulkan agar buruh pabrik mendapatkan bantuan Insentif dari pemerintah agar bisa ikut melakukan social distancing.
Ketua DPC Serikat Pekerja Nasional (SPN), Muhammad Sholihudin mengatakan, sampai saat ini banyak buruh yang harus masuk kerja dan berkumpul dengan banyak orang.
Padahal Pemerintah menyarankan untuk melakukan social distancing untuk memutus mata rantai virus corona.
• Cerita Para Buruh Solo Dihadapkan Ketakutan Pandemi Corona dan Dompet Kembang Kempis
• UPDATE Corona di Indonesia 4 April 2020: 150 Pasien Covid-19 Dinyatakan Sembuh
Menurut dia, agar para buruh juga bisa melaksanakan social distancing Pemerintah bisa ikut mengcover para buruh.
"Kami berharap pemerintah bisa mengcover ini, jangan setengah hati, tempat-tempat sosial, aktivitas sosial dibubarkan/diberhentikan pabrik tidak diberhentikan untuk kegiatannya, disitu berkumpul orang banyak," tambahnya.
Sholihudin menyarankan social distancing diterapkan di tempat para buruh bekerja guna memutus mata rantai virus Corona.
"Namun pemerintah tetap ada tanggung jawab untuk mengcover kami sebagai rakyat, apalagi kemampuan perusahaan saat ini juga mulai terbatas," kata dia.
"Semacam bantuan atau insentif atau stimulus untuk mengcover kehiduapan kami, tidak harus menutup 100 persen, tapi ada stimulus untuk meng-cover itu seperti apa pemerintah yang punya formulanya," tandasnya.
Muhammad Sholihudin menuturkan, para pengusaha dan buruh dihadapkan pada kondisi yang dilematis saat pandemi Corona.
"Pemerintah membuat imbauan social distancing, dari sisi masyarakat pekerja dan pengusaha ingin mendukung itu," kata Sholihudin kepada TribunSolo.com, Sabtu (4/4/2020).
"Tapi kami butuh ketika melakukan itu siapa yang bisa meng-cover kami," imbuhnya membeberkan.
Sholihudin menuturkan para buruh merasa takut tatkala harus masuk kerja selama pandemi Corona karena mereka bekerja di tengah kerumunan orang.
Itu menjadi satu diantara banyak hal yang berpotensi menyebarkan virus Corona, namun apabila para buruh tak berangkat maka mereka tak mendapat upah.
"Efeknya kalau kami tidak keluar dari rumah otomatis, pendapatan tidak ada, pendapatan harian cuma 50 persen dari hari normal dan harus menghidupi keluarga, akhirnya mereka tetap keluar untuk mencari 50 persen sisanya guna menutup kebutuhan," tutur dia. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/ump-2020-di-jawa-tengah-sebesar-rp-174-juta.jpg)