Breaking News:

Novel Baswedan Tanggapi soal Mata Kirinya yang Disebut Pakai Softlense Bukan Luka Betulan

Novel Baswedan tanggapi soal mata sebelah kirinya yang mengalami luka akibat penyiraman air keras tidak ditutupi atau dilindungi dengan softlens.

kompas.com
Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan ditemui di depan kediamannya di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (11/4/2019). Dua tahun kasusnya tak juga selesai, Novel berharap Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan pencari fakta. (Kompas.com / Tatang Guritno) 

TRIBUNSOLO.COM, JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebut mata sebelah kirinya yang mengalami luka akibat penyiraman air keras tidak ditutupi atau dilindungi dengan softlens.

Hal itu diungkapkan olehnya selaku saksi dalam sidang lanjutan di PN Jakarta Utara, saat menjawab pertanyaan penasihat hukum pelaku, Kamis (30/4/2020).

"Apakah mata kiri sebelah kiri ini memang itu begitu membentuk lukanya? Ini mohon maaf ini saudara saksi, jangan sampai nanti kita salah mengartikan, apakah saudara saksi pakai softlens atau luka betulan?" tanya penasihat hukum.

Corona Belum Reda, Presiden Jokowi Ingatkan Pengusaha yang Dapat Stimulus Tak PHK Karyawan

Dikutip TribunSolo.com dari Tribunnews.com, Novel pun menjawab memang ada sejumlah oknum yang bermain narasi bahwa dirinya memakai softlens.

Novel pun menegaskan hal itu tidak benar.

"Saya tahu kalau ada oknum tertentu yang membuat cerita seperti itu. Walaupun sudah dilaporkan, tidak diproses dan itu faktanya. Mata saya dipegang tidak apa-apa. Kalau ada cottonbud, dicopot juga boleh," lanjutnya.

Perdebatan soal softlens dan mata kiri Novel pun terjadi tak lama.

Romahurmuziy Bebas, Wasekjen PPP: Atas Nama Hukum Memang Harus Dibebaskan

Menurut Novel, apa yang disampaikan penasihat hukum kurang lebih merendahkan dan menyatakan dirinya bohong selama ini.

Namun, hakim kemudian menengahi bahwa yang dilakukan penasihat hukum pelaku untuk mencari fakta hukum dari kasus penyiraman air keras.

"Ini konteksnya untuk mencari fakta hukum. Jangan dibawa ke perasaan," kata hakim.

Halaman
12
Editor: Noorchasanah Anastasia Wulandari
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved