Amerika Dilanda Rusuh Kasus George Floyd, Benarkah Rupiah akan Makin Menguat?
Amerika Dilanda Rusuh Kasus George Floyd, Benarkah Rupiah akan Makin Menguat?
TRIBUNSOLO.COM - Kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Amerika Serikat, membuat analis memperkirakan, akan melemahkan nilai dolar AS.
Mata uang rupiah diproyeksikan berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (2/6/2020).
• Kesaksian Politisi Pro Trump : Donald Trump Syok Lihat Jumlah Pendemo Kasus George Floyd
• Dipimpin Pebisnis Ulung, Ekonomi Amerika Malah di Tepi Kehancuran : Dihantam Corona dan George Floyd
Pada akhir pekan kemarin, rupiah ditutup menguat 0,71% ke level Rp 14.610 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara di kurs tengah Bank Indonesia (BI) rupiah juga berhasil menguat. Mata uang Garuda tercatat naik 0,68% ke Rp 14.710 per dolar AS.
Analis Monex Investindo Futures, Faisyal, menyebut pada perdagangan besok, pelaku pasar akan cenderung wait and see terkait perkembangan di AS.
Pertama, soal kelanjutan AS-China terkait Hongkong yang ternyata respons Donald Trump tidak segalak yang diperkirakan pasar.
Trump hanya mencabut status kasus dan tidak mengubah perjanjian terkait perang dagang AS - China.
“Kedua, perkembangan terkait demonstrasi besar-besaran di AS terkait meninggalnya George Floyd juga akan menjadi sentimen besok,"
"Di satu sisi, demo tersebut juga mungkin melemahkan dolar seiring aksi yang dilakukan banyak tidak menggunakan masker dan dikhawatirkan membuat kasus virus corona di AS kembali melonjak,” ujar Faisyal dikutip dari Kontan.co.id, Senin (1/6/2020).
Sementara ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebut, mata uang serta pasar keuangan negara berkembang pada hari ini (1/6) masih diperdagangkan menguat.
Diperkirakan hal tersebut akan menjaga sentimen positif pada pergerakan rupiah pada perdagangan besok.
“Pada hari ini data PMI manufacturing China juga menunjukkan tanda pemulihan yang memberikan sinyal ekonomi China berangsur pulih dalam sebulan terakhir yang diperkirakan juga akan menopang sentimen positif di pasar keuangan negara berkembang, termasuk rupiah,” kata Josua.
Josua menambahkan, pelaku pasar juga akan menantikan rilis data PMI manufacturing dan ISM manufacturing AS per bulan Mei yang diperkirakan masih dalam area kontraksi namun ekspektasi membaik dari bulan sebelumnya.
Josua memproyeksikan rupiah akan berada di rentang Rp 14.550 - Rp 14.650 per dolar AS pada perdagangan besok. Sementara Faisyal menghitung rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.330 - Rp 14.600 per dolar AS. (*)
Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul : Amerika bergejolak, rupiah berpeluang menguat pada perdagangan Selasa (2/6)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/krisis-ekonomi-amerika-corona-george-floyd.jpg)