Solo KLB Corona

Begini Perkembangan Terapi Plasma Darah Untuk Sembuhkan Pasien Positif Covid-19 di Kota Solo

CEO PMI Solo, Sumartono Hadinoto mengaku telah mengambil plasma darah dari sejumlah pasien yang dinyatakan terbebas dari Covid-19.

SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ
Ilustrasi: RAPID TES DRIVE THROUGH - Petugas medis Rumah Sakit Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya (RKZ) memberi layanan rapid test COVID-19 secara drive through yang pertama di Surabaya, Selasa (21/4). Peserta rapid test drive through cukup duduk di atas kendaraan dan tim laboratorium RKZ yang akan mengambil sampel darah. Proses berlangsung tak lebih dari 10 menit dan hasil lab dikirim via email maksimal 2 jam kemudian. Biaya rapid test drive through di RKZ ini dibanderol dengan harga Rp 398 ribu. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ilham Oktafian

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Beberapa waktu lalu RSUD Dr Moewardi dan PMI Solo mencoba menerapkan terapi konvalensen atau plasma darah untuk menyembuhkan pasien yang terpapar Covid-19.

Pada penerapannya, plasma darah pasien yang dinyatakan sembuh akan diambil, lalu ditransfusikan ke pasien yang masih positif.

Di Solo, pengambilan plasma darah sendiri berlangsung di PMI.

CEO PMI Solo, Sumartono Hadinoto mengaku telah mengambil plasma darah dari sejumlah pasien yang dinyatakan terbebas dari Covid-19.

Nyaris Salip Solo & Menyamai Karanganyar, Kini Positif Corona yang Meninggal di Klaten Jadi 3 Orang

Sejarah dan Asal-usul Monumen 45 Banjarsari Solo : Kisah Perang Empat Hari di Solo

"Sampai kemarin yang sudah siap lebih dari 10 orang, namun baru diambil 2 orang," kata dia pada TribunSolo.com, Jumat (26/6/2020).

Ia pun memberikan kabar terbaru mengenai perkembangan salah satu uji klinis untuk penyembuhan Corona tersebut.

"Terakhir seminggu yang lalu kami mengambil dari pasien yang telah sembuh dan dilakukan pengambilan darah di PMI lalu ditransfusikan ke RS dr Moewardi memang belum ada perkembangan yang signifikan," katanya.

Menurut dia, satu di antara sebab minimnya perkembangan terapi plasma darah di Kota Solo sendiri lantaran tidak adanya pasien yang mengalami gejala akut dalam penyakit Corona.

Gejala akut yang dimaksud adalah mengalami sesak nafas hingga mendapatkan penanganan lebih lanjut di ruang ICU.

"Di Solo sendiri tidak ada gejala yang sangat buruk dan masuk ruang ICU," paparnya.

"Kalau gejalanya tidak parah kemungkinan bisa sembuh sendiri," tegasnya. (*)

Penulis: Ilham Oktafian
Editor: Asep Abdullah Rowi
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved