Proyek Tol Solo Jogja

Harga Tanah Terdampak Tol Solo – Jogja Cuma Rp 600 Ribu per Meter, Warga Desa Kahuman Klaten Kecewa

Warga Desa Kahuman yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Solo – Yogyakarta merasa kecewa atas penetapan besaran harga tanah per meter.

Penulis: Mardon Widiyanto | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com/ Mardon Widiyanto
Tongkat Kuning Penanda Lokasi Proyek Tol Solo-Jogja terpasang di area persawahan, di Desa Kahuman, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Sekasa (24/11/2020) 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Warga Desa Kahuman yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Solo – Yogyakarta merasa kecewa atas penetapan besaran harga tanah per meter dalam Musyawarah Penetapan Ganti Rugi Penggandaan Tanah Tol Solo – Yogyakarta di Balai Desa Kahuman, Senin (24/11/2020).

Dalam musyawarah tersebut, harga tanah yang ditetapkan yakni Rp 600 ribu per meter.

Warga Kahuman, Faroka (56) mengaku hanya bisa pasrah dengan putusan harga tanah per meter tersebut.

Ia sudah berandai-andai lahan miliknya seluas 2.331 meter persegi yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Solo – Yogyakarta bakal dihargai Rp 1 juta per meter.

Baca juga: Daftar 10 Desa Pertama di Klaten, yang Akan Diguyur Ganti Rugi Lahan Terdampak Proyek Tol Solo-Jogja

Baca juga: Kisah Founder Ponpes Aitam Colomadu : Rela Kena Tol Solo-Jogja Demi Kepentingan Umum, Legawa Pindah

Perkiraan besaran harga tersebut berkaca di daerah-daerah terdampak lainnya yang harga tanah per meternya bisa mencapai Rp 1 juta per meter.  

"Saya kecewa terhadap hasil musyawarah ini, harga tanah disini ditetapkan jadi Rp 600 ribu per meter, bahkan kami berangan-angan lahan kami yang masuk proyek Tol Solo-Jogja ditetapkan harganya menjadi Rp 1 Juta per meter," kata Faroka saat ditemui di Balai Desa Kahuman.

Faroka mengaku dirinya bingung bagaimana besaran harga tanah Rp 600 ribu per meter bisa ditetapkan.

"Saya bingung, mereka menetapkan harga tanahnya bagaimana, perkiraan kami dalam penentuan harga-harga tanah akan seperti di daerah lain yang bisa sampai Rp 1 juta rupiah," ucap Faroka.

Saat ini, ia mengaku masih bingung akan menerima atau tidak hasil musyawarah.

Dirinya kini hanya bisa pasrah serta menunggu keputusan dari warga yang tanahnya juga ikut terdampak.

"Jika nanti kami setuju dan menerima uang ganti rugi tersebut, kami berencana membeli sawah baru menggantikan dengan sawah yang lama," jawabnya.

Terpisah Kepala Desa Kahuman Ida Andung Prihatin saat ditemui di kantornya membenarkan ada beberapa warganya yang kecewa terhadap hasil musyawarah tadi.

Ia mengatakan meskipun warga terlihat dengan raut wajah yang lesu, mereka tetap menyepakati ganti rugi tersebut.

Halaman
1234
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved