Berita Wonogiri Terbaru

PPKM Dinilai Kurang Efektif, Polres Wonogiri Perketat Protokol Kesehatan dan Bagikan 10.500 Masker

Pemberlakuan PSBB di Jawa dan Bali disebut Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo kurang efektif.

Tayang:
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Agil
Kapolres Wonogiri AKBP Cristian Tobing. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Pemberlakuan PKM/PSBB di Jawa dan Bali disebut Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo kurang efektif.

Demi membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri menekan angka penyebaran Covid-19, Polres Wonogiri memperketat protokol kesehatan.

Polres Wonogiri dibantu tim dari Kodim 0728/Wonogiri membagikan 10.500 masker kepada masyarakat di sejumlah pusat keramaian, Selasa (2/2/2021).

Kapolres Wonogiri AKBP Cristian Tobing mengatakan, pembagian masker secara dilakukan secara serentak di seluruh Kecamatan yang ada di Kabupaten Wonogiri.

"Pembagian masker kita lakukan serentak, yang melibatkan seluruh jajaran Polsek di 25 Kecamatan di Kabupaten Wonogiri," kata dia kepada TribunSolo.com.

Hujan dan Angin Kencang Melanda Wonogiri, Petani Tewas Tertimpa Pohon Tumbang

Tiga Minggu PPKM, Kasus Corona di Sukoharjo Justru Meroket, Begini Penjelasan Satgas Covid-19

Selain membagikan masker, tim juga melakukan sosialisasi serta penegakan hukum protokol kesehatan.

Dikutip dari data Satgas Covid-19 Kabupaten Wonogiri, jumlah kasus positif Covid-19 masih mengalami peningkatan.

Data per Senin (1/1/2021), ada kenaikan lima kasus, sehingga jumlah kumulatif menjadi 2.661 kasus.

Dengan rincian 122 kasus rawat inap, 38 orang melakukan isolasi mandiri, 2.403 kasus telah sembuh, dan 98 kasus meninggal dunia.

Masih di Zona Merah

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Kabupaten Wonogiri masih berada di Zona Merah dalam penyebaran kasus Covid-19.

Pdahal, Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu Kabupaten dengan kasus Covid-19 terendah di Solo Raya.

Selain itu, sudah tiga pekan ini, Pemerintah Kabupaten Wonogiri menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau PSBB.

Kondisi itu terjadi lantaran masih banyaknya ditemukan perantau yang nekat mudik.

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo mengatakan dari total penambahan 171 kasus hari ini terdapat 166 orang berasal dari klaster perjalanan.

“Klaster perjalanan berupa perantau yang mudik, pelaku wisata ke luar Wonogiri hingga pentakziah,” kata Jekek, Jumat (29/1/2021).

Jekek mengungkapkan masih banyaknya perantau yang mudik ke kampung halaman lantaran keluarganya menggelar hajatan.

Padahal sejak liburan akhir 2020, Pemkab Wonogiri sudah melarang warga menggelar hajatan untuk memutus mata rantai penularan Covid-19.

Tragisnya saat pulang dari kota-kota besar, kata Jekek, para perantau rupanya dalam kondisi terinfeksi Covid-19 hingga akhirnya menularkan kepada keluarganya.

Fakta yang lain, banyak perantau yang pulang ke Wonogiri lalu berwisata ke kabupaten tetangga.

Pasalnya seluruh tempat wisata di bumi gaplek sejak akhir 2020 ditutup sampai saat ini.

Usai pulang dari berwisata di kabupaten tetangga, warga itu kemudian mengalami sakit dan akhirnya diketahui positif Covid-19.

Bisa jadi saat berwisata di kabupaten tetangga, warga itu berkontak dengan orang tanpa gejala yang ketemu di lokasi wisata.

Rentetan Cuaca Buruk di Wonogiri, Seusai Banjir Bandang Kini Angin Kencang dan Pohon Tumbang

Banjir Bandang di Wonogiri Rendam 2 Kecamatan dan Ratusan Rumah, Disebabkan Luweng Tersumbat

“Jadi dari 171 penambahan kasus hari ini ada 166 orang yang riwayatnya melakukan perjalanan, wisata, takziah dan memiliki hajatan," ungkapnya.

"Mobilisasi itu berasal dari kota-kota besar dimana perantau asal wonogiri pulang ke kampung, Begitu tiba di kampung halaman, banyak warga mencari alternatif wisata di kabupaten lain," jelasnya.

"Padahal sebaran OTG yang cukup luas dan tidak terdeteksi maka potensi terpapar sangat terbuka," terang Jekek.

Jekek menyebut ketidakompakan kabupaten lain menerapkan kebijakan PPKM berdampak kasus positif Covid-19 di Kabupaten Wonogiri masih tinggi.

Padahal Wonogiri sudah menerapkan kebijakan tegas menutup seluruh ruang publik, tempat wisata dan melarang hajatan.

Hanya saja kabupaten tetangga masih longgar dalam kebijakan pembatasan penggunaan ruang publik, tempat wisata dan hajatan.

Kondisi itu menjadikan warga Wonogiri sudah diambang kebosanan mencari hiburan tempat wisata di kabupaten tetangga.

Padahal saat berada di tempat wisata kabupaten tetangga bisa jadi warga bertemu dengan para OTG sehingga tidak terasa tertular virus corona.

Dengan demikian saat pulang kembali ke Wonogiri, warga itu membawa virus corona yang bisa menularkan kepada keluarga dan tetangga.

“Maka usulan kami harus ada ketegasan dari pemerintah propinsi dan pemerintah pusat,” pinta Jekek. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved