Berita Karanganyar Terbaru
Harga Cabai di Karanganyar Ogah Turun, Tembus Rp 125 Ribu Per Kg, Lebih Mahal dari Harga Daging Sapi
Harga cabai rawit merah di Kabupaten Karanganyar masih melambung tinggi, sehingga membuat masyarakat kelimpungan.
Penulis: Muhammad Irfan Al Amin | Editor: Asep Abdullah Rowi
Namun uji coba mewarnai dengan cairan cengkih itu, kata Berry, tidak berhasil. Pewarna tidak dapat menempel ke cabai.
"Akhirnya dia berinisiatif pakai pilox, dan hasilnya sama persis. Kalau dilihat sama persis, cabai rawit merah yang asli kalau digosok warnanya tetap, tapi kalau yang dicat mengelupas," jelas Berry.
Baca juga: Viral Cabai Rawit Dicat Merah yang Tak Bisa Larut, BPOM: Mirip Cat Kayu, Jelas Bukan Pewarna Makanan
Berry mengatakan, cabai rawit yang dicat semprot itu didistribusikan hingga Kabupaten Banyumas melalui seorang pengepul.
"Pedagang di beberapa pasar itu mengambil dari seorang pengepul asal Temanggung, nah pengepul ini dapat cabai salah satunya dari pelaku. Dari petani cabai datang pakai karung, kemudian dikemas dalam kardus dan dikirim ke sini," kata Berry.
Baca juga: Berkaca dari Kasus Cabai Dicat di Banyumas, Jika Dikonsumsi Bisa Sebabkan Keracunan hingga Keguguran
Berry mengatakan, aksi tersebut hanya dilakukan pelaku seorang diri.
Diberitakan sebelumnya, cabai rawit berwarna merah yang ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ternyata dicat menggunakan cat semprot.
Untuk mengelabui pembeli, kata Berry, terduga pelaku mencampur cabai rawit kuning yang dicat merah dengan cabai rawit merah asli dalam satu kemasan.
Pelaku mengecat cabai rawit kuning dengan warna merah karena harga cabai rawit merah di pasaran sedang tinggi. (Kompas.com/Fadlan Mukhtar Zain)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sebelum Warnai Cabai dengan Cat Semprot, Petani Ini Sempat Pakai Pewarna dari Cairan Cengkih".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/njual-berbagai-macam-cabai-menunggu-pembeli-di-pasar-legi.jpg)