Berita Boyolali Terbaru

Euforia Bikin Derita Bikin Covid-19 di Boyolali Meledak, Imbas Nekat Halal Bi Halal Meski Dilarang

Kasus Covid-19 di Kabupaten Boyolali mendadak meroket 20 persen pasca libur lebaran 2021.

Tayang:
Penulis: Mardon Widiyanto | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Adi Surya
ILUSTRASI : Petugas menggelar swab test massal Covid-19 dari orang tua hingga anak-anak imbas klaster buka bersama (bukber) di RT 06 RW 07, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Rabu (19/5/2021). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Kasus Covid-19 di Kabupaten Boyolali mendadak meroket 20 persen pasca libur lebaran 2021.

Kenaikan kasus Covid-19 di Kabupaten Boyolali didominasi Klaster keluarga.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Boyolali Ratri S. Survivalina mengatakan peningkatan kasus ini dipicu adanya euforia lebaran dan halal bi halal.

"Pasca libur lebaran peningkatan kasus Covid-19 yang cukup signifikan, ini dipicu euforia lebaran dan halal bi halal," ucap Ratri, kepada TribunSolo.com, Rabu (2/5/2021).

Ia menyebut dari data DKK Boyolali, penambahan angka kasus tersebut dilihat dari banyaknya pasien yang menjalani isolasi di rumah sakit.

Baca juga: Dipanggil Polisi, Besok Korlap & Orator Aksi Solidaritas Palestina di Solo Bakal Jalani Pemeriksaan

Baca juga: Pameran dan Kontes Bonsai Nasional di Tengah PPKM Mikro di Sukoharjo, Jika Ada Kerumunan Dibubarkan

Jumlah kamar tidur terisi sebelum lebaran hanya terisi 30 persen naik menjadi 50 persen.

"Ada peningkatan 20 persen bed isolasi yang terisi dan tersebar di 6 RS," ujar Ratri.

Meskipun mengalami kenaikan, ia mengaku tidak membuat kelebihan kapasitas bed di RS rujukan Covid-19 Boyolali.

Kemudian ia menambahkan kenaikan hingga 50 persen masih dalam tahap aman.

"Walaupun ada peningkatan, untuk jumlah bed yang tersedia masih aman, sekitar ada 148 bed untuk isolasi yang tersebar di enam RS, sehingga ketersediaan bed masih cukup," kata Ratri.

Lanjut, dia mengatakan kasus pasca libur lebaran ini juga didominasi klaster keluarga, salah satunya klaster keluarga di Tlogolele, Selo.

Ada 17 anggota keluarga yang terpapar dan mereka diduga melakukan halal bi halal saat hari raya idul fitri.

"Lebaran ini mereka mengadakan halal bi halal yang berpotensi menimbulkan kerumunan," terangnya.

Ratri mengatakan pihaknya selalu berkomitmen melaksanakan program-program untuk mencegah potensi penyebaran lebih besar.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved