Breaking News:

Virus Corona

Ada 2.313 Pasien Covid-19 Wafat saat Isoman, Dokter IDI Ungkap Penyebab dan Tips Penanganannya

Meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia kini berdampak pada ketersediaan rumah sakit.

Editor: Naufal Hanif Putra Aji
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
ILUSTRASI pemakaman. 

TRIBUNSOLO.COM - Meningkatnya kasus Covid-19 di Indonesia kini berdampak pada ketersediaan rumah sakit.

Kondisi ini membuat tak sedikit masyarakat yang terpapar Covid-19 memutuskan untuk isolasi mandiri.

Baca juga: Pria yang Tularkan Corona Varian Delta di Brisbane Australia, Ternyata Baru Datang dari Indonesia

Mirisnya, ada sejumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri.

Jumlah ini pun terus bertambah setiap harinya.

Bahkan tak jarang ditemukan pasien tersebut meninggal meskipun tidak memiliki komorbid (penyakit penyerta).

Berdasarkan data LaporCovid-19, sebanyak 2.313 pasien kasus corona meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri di rumah.

Data ini dihimpun dari 16 provinsi dan 78 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Nyawa mereka tak tertolong karena rumah sakit penuh.

Hal tersebut diperparah dengan minimnya tim kesehatan yang memantau para pasien tersebut.

"Angka 2.313 ini adalah sumbangsih dari rekap LaporCovid-19, kemudian dari CISDI," kata Data Analyst LaporCovid-19 Said Fariz Hibban dalam konferensi pers daring di kanal Youtube LaporCovid19, Kamis (22/7/2021).

Publik pun banyak yang mempertanyakan penyebab kondisi ini bisa terjadi di masyarakat.

Banyak yang khawatir, penanganan yang dilakukan tidak tepat sehingga berakibat menghilangkan nyawa pasien.

Dilansir dari TribunNews, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dokter Daeng M Faqih, SH, MH  mengatakan beberapa faktor penyebabnya.

Ia beranggapan pasien meninggal saat isoman umumnya disebabkan gejala pemburukan yang tidak mendapatkan pertolongan.

Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan gradasi keparahan infeksi sehingga seharusnya mendapatkan perawatan lebih. Ia menguraikan, gradasi pasien Covid-19 terdiri dari lima tahapan yakni OTG, ringan, sedang, berat dan kritis.

Ketika mengalami pemburukan, pasien isoman otomatis naik menjadi level sedang dan harus dibawa ke rumah sakit.

"Mungkin memang agak berat faktanya, tapi kasus isoman meninggal itu karena seharusnya dibawa ke rumah sakit, bukan lagi isoman," jelasnya dalam diskusi media bertajuk Dukungan Good Doctor untuk Program Vaksinasi Nasional dan Penanganan COVID-19 di Indonesia secara virtual pada Kamis (22/07/2021).

Daeng mengatakan, seringkali keluarga tidak memahami gentingnya kondisi pasien isoman sehingga terlambat memberikan penanganan.

Hal yang cukup krusial untuk diperhatikan, tambahnya, adalah kadar saturasi oksigen pasien.

Oleh karena itu, ia mengatakan penting sekali bagi pasien isoman untuk selalu terhubung dengan dokter atau ahli kesehatan setempat, termasuk melalui layanan telemedisin.

Tujuannya agar tetap mendapatkan pendampingan dan menghindarkan diri dari gejala yang lebih berat.

Perlu selalu memastikan kondisi pasien dan melaporkannya untuk mendapatkan arahan yang tepat.

Baca juga: Pendaftaran Vaksinasi 750 Dosis Bagi Warga Karanganyar Dibuka Hari Ini, Begini Cara Daftarnya

Cara Isolasi Mandiri di Rumah Jika Positif Covid-19

Berikut ini cara isolasi mandiri di rumah bagi pasien Covid-19.

Seseorang yang terpapar Covid-19 akan mengalami beberapa gejala, mulai dari gejala ringan hingga berat.

Namun, tidak menutup kemungkinan seseorang yang terpapar tidak merasakan gejala apapun.

Jika Anda merasakan gejala ringan Covid-19 ataupun tidak bergejala, maka dianjurkan melakukan isolasi mandiri di rumah.

Dalam Buku Panduan Isolasi Mandiri dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) dijelaskan bahwa seseorang yang terpapar Covid-19 dikatakan tanpa gejala jika frekuensi napas 12-20 per menit dengan tingkat saturasi oksigen lebih dari 95 persen.

Adapun tingkat saturasi oksigen seseorang dapat diketahui menggunakan oksimeter.

Karena itu, pasien yang menjalani isolasi mandiri perlu menyediakan oksimeter dan termometer untuk mengukur suhu tubuh dengan frekuensi pengecekan dua kali sehari, setiap pagi dan malam.

Cara Isolasi Mandiri di Rumah

Berikut ini sejumlah panduan isolasi mandiri yang dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes):

1. Selalu memakai masker dan membuang masker bekas di tempat yang ditentukan.

2. Jika sakit (ada gejala demam, flu, dan batuk), maka tetap di rumah.

Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat.

3. Manfaatkan fasilitas telemidicine atau sosial media kesehatan dan hindari transportasi publik.

Beritahu dokter dan perawat tentang keluhan dan gejala, serta riwayat bekerja ke daerah terjangkit atau kontak dengan pasien Covid-19.

4. Selama di rumah, bisa bekerja di rumah.

Gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya dan jaga jarak 1 meter dari anggota keluarga.

5. Tentukan pengecekan suhu harian, amati batuk, dan sesak napas. Hindari pemakaian bersama peralatan makan, peralatan mandi, dan tempat tidur.

6. Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih, serta konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, dan lakukan etika batuk dan bersin.

7. Jaga kebersihan dan kesehatan rumah dengan cairan disinfektan.

Selalu berada di ruangan terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi (antara 15-30 menit).

8. Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut seperti sesak napas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Syarat Isolasi Mandiri

Berikut syarat dan alat yang perlu disiapkan untuk Isoman, dikutip dari Buku Panduan Isolasi Mandiri oleh Papdi :

1. Tidak bergejala/asimptomatik;

2. Gejala ringan;

3. Lingkungan rumah/kamar memiliki ventilasi yang baik.

Alat yang Perlu Disediakan di Rumah

1. Termometer (alat pengukur suhu).

2. Oxymeter (alat pengukur saturasi oksigen).

Kegiatan Harian saat Isolasi Mandiri

1. Buka jendela kamar untuk cahaya masuk dan sirkulasi udara.

2. Berjemur matahari selama 10-15 menit, antara pukul 10.00-13.00 waktu setempat.

3. Rutin cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer

4. Olahraga rutin selama 3-5 kali seminggu.

5. Makan bergizi seimbang 3 kali sehari secara terpisah dengan keluarga.

6. Pisahkan cucian kotor dengan pakaian kotor keluarga lainnya.

7. Bersihkan kamar setiap hari, gunakan APD (minimal masker).

8. Cuci alat makan sendiri setelah selesai digunakan.

9. Periksa suhu tubuh dan saturasi oksigen setiap pagi dan malam.

10. Tidur di kamar pribadi yang terpisah dengan anggota keluarga lain.

Anda dapat mengonsumsi vitamin C, D, Zn atau sesuai anjuran dokter.

Kemudian, hubungi pelayanan kesehatan terdekat untuk bimbingan pemantauan mandiri.

Lamanya perawatan untuk pasien positif Covid-19 tanpa gejala adalah 10 hari isolasi sejak terkonfirmasi positif.

Sementara untuk pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan adalah 10 hari isolasi sejak timbul gejala, minimal 3 hari bebas gejala.

(Kompas.com/Tribunnews.com/Tribun Jakarta)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved